Adaptasi Menjadi Ibu Rumah Tangga.

Photo by Lum3n.com from Pexels


Dulu waktu kecil, aku ingin sekali menjadi dokter karena kakekku sakit-sakitan. Namun sayangnya sebelum aku lulus SMP, kakekku dipanggil Tuhan. Setelah lulus SMA karena dana terbatas akhirnya aku kuliah kebidanan, ibuku selalu berpesan supaya aku menjadi wanita yang mandiri. Menjadi Bidan bagiku merupakan jalan untuk mandiri, setidaknya aku bisa lah buka praktek di rumah kalau tidak bekerja di rumah sakit atau puskesmas. Mimpi itu terwujud ketika akhirnya aku bekerja di sebuah rumah sakit swasta, kesempatan untuk membangun karir dan belajar terbuka lebar. Sampai akhirnya aku menikah, punya anak dan harus memilih : terus bekerja atau mendampingi suami yang kebetulan dinasnya berpindah-pindah? Sebenarnya kegalauan itu sudah pernah aku tulis di postingan ini sih, hiya hiya. 

Pada akhirnya aku memilih menjadi ibu rumah tangga, tapi ada beberapa hal yang i wish i knew before i choose to be stay at home mom. Hal-hal yang semestinya dipersiapkan dengan baik supaya hati dan mental lebih siap menjalani peran yang baru dengan bahagia. Meski aku sudah melakukan hal yang membuat ibu bahagia (baca juga : Menjadi ibu yang bahagia) namun hilangnya beberapa aspek dari kehidupan sebelumnya ternyata memberikan pengaruh yang cukup besar. Aku sempat depresi yang suka nangis sendiri, marah sendiri, ngamuk sendiri. Kalau dipikir-pikir sabar juga ya suamiku itu menghadapi diriku ini, puji syukur punya suami seperti dia. Apa saja hal itu?

1. Manajemen Waktu yang baik
Aku suka banget segala hal yang terjadwal rapi, jadi ketika menjadi ibu rumah tangga aku syok banget karena nggak bisa bikin jadwal dengan baik. Hal ini sangat menganggu dan bikin aku sebal sepanjang waktu. Ya gimana ya, tadi ngrendem baju mau nyuci eh anaknya ngajak main lalu habis main ngantuk, akhirnya buyar acara mencuci. Misal mau masak, anaknya rewel nggak bisa ditinggal masak, akhirnya anaknya dikasih tepung biar anteng eh malah tepungnya jadi rata satu dapur. AKU KESEEEEL BUNDAAAA~~

Manajemen waktu yang kurang baik ini akhirnya bikin aku jadi kesusahan juga mencari waktu me time, lalu berasa uring-uringan karena kerjaan nggak pernah beres. Akhirnya jadi emosional berkepanjangan. Beda dengan saat masih bekerja dulu, meski tidur lebih malam dan bangun lebih pagi tapi segalanya sudah terjadwal dan aku sudah ada bayangan kira-kira hari itu mau ngapain. Kalau sekarang, rasanya kayak bangun tidur tak ada bayangan hari ini mau ngapain. Maka kalau kamu memutuskan mau jadi ibu rumah tangga dan kamu suka menjadwal segala seuatu kayak aku, sebaiknya kamu turunkan standartmu supaya nggak terlalu berekpektasi kayak aku.

Iya, standar ekpektasi yang ketinggian itu yang suka bikin sakit hati. Misalnya rumah harus selalu always rapi kayak di gambar pinterest, ibu harus sempurna memasak, setrikaan harus rapi jali . Menjadi ibu rumah tangga tanpa asisten mau nggak mau kita harus menurunkan standart, kalau nggak bisa emosional dan stress sendiri. Tentukan juga prioritas, misalnya kalau aku yang penting rumah bersih nggak rapi amat juga nggak apa, masak juga nggak harus yang enak dan mewah terus, nycui juga sesempetnya aja kalau capek ya laundry dan seterusnya.

2. Kehidupan sosial
We need another human being! Manusia perlu berinteraksi dengan manusia lain, bukan cuma via chat tapi beneran ketemu langsung, tatap muka, ghibah bareng, jajan bareng, melakukan suatu kegiatan bareng. Hal yang paling terasa setelah menjadi ibu rumah tangga adalah : Aku kesepian. Kadangkala rindu rekan sejawat, membahas studi kasus terbaru, membahas deg-degannya ketika ada kasus emergency atau sekedar saling tukar resep masakan dan ngobrolin perilaku suami masing-masing. Memang, ketika menjadi ibu rumah tangga kita masih punya tetangga, atau ibu dari teman anak kita. Namun kadang karena background yang berbeda (apalagi hidupku nomaden ya), obrolan yang ada pun masih terasa sungkan dan berbasa-basi. Beda dengan ketika kita ngobrol dengan teman lama yang sudah hapal segala pahit manis dan kebusukan kita, pasti ngobrolnya akan lebih santuy dan apa adanya. Sometimes, I really miss my friends. 

Jadi mungkin saat kamu memutuskan menjadi ibu rumah tangga, pastikan kamu tetap punya kehidupan sosial. Kalau rumahmu dekat dengan kawan lama, bisalah sesekali playdate atau ketemuan. Mereka nggak ngajakin? ya kamulah yang ngajakin duluan. Atau kalau hidupmu nomaden kayak aku, kamu bisa mencari komunitas tertentu yang sesuai minat bakatmu. Jangan sampai kamu kayak aku, berbulan-bulan merasa selalu ada yang kurang, ada yang nggak pas, ada yang kosong, tapi nggak tahu apa. Ternyata aku cuma kurang bertemu orang. SAD!

3. Keuangan
Soal keuangan ini perlu diperbincangkan dan dibahas dengan suami, karena pasti ada perbedaan dari double income ke single income. Perbedaan rasa belanja pakai duit sendiri dengan pakai duit suami. Dalam kasusku, dari segi jumlah sebenarnya perbedaannya nggak bikin syok sih, karena walau dulu double income tapi biaya LDR Jogja-NTT itu lumayan juga : duitnya habis di ongkos. Cuma sebelum memutuskan resign aku tanya dulu sama suami, aoakah nanti tetep boleh jajan skincare? apakah tetep boleh belanja baju suka-suka? apakah dia mau bayarin biaya maintenance blog ini? yah at least supaya dia tahu ada biaya-biaya yang perlu dikeluarkan di luar biaya hidup primer. Untungnya suami mengiyakan dan menepati janji soal keuangan ini, jadi bagiku nggak beda jauh sih cuma bedanya mungkin jadi berasa agak sungkan gitu kalau belanjanya kebanyakan.


Hak-hal diatas adalah hal yang aku harap bisa aku persiapkan dengan lebih baik sehingga membuatku menjadi ibu yang kebih tenang dibandingkan sekarang. Meski aku akui dukungan suami dan pengertiannya berperan sangat besar dalam masa peralihan ini, kalau dia nggak sabar entah jadi apa deh pernikahan kami. Pada akhirnya memang pernikahan tak melulu cuma soal cinta, tapi juga komitmen dan suatu pemahaman bahwa menjadi ibu kan memang sebuah proses yang tidak selalu shinning shimmery splendid kan ya, jadi ndak apa-apa kalau tidak sempurna.

Selamat menjadi ibu, semoga selalu sehat dan bahagia.


1 comment:

  1. Salam kenal mba , ini juga yang saya rasakan kebetulan saya bidan kerja di rumah sakit saya juga bingung antara mau resign apa gak , karna saya jujur berat dengan keluarga waktu dengan keluarga jadi lebih sedikit tapi mau resign mikir juga kalo belanja pake duit suami agak sungkan

    ReplyDelete

Feel free to ask anything, leave your comment. No SARA please :)