Menjadi Ibu yang Bahagia

Bahagia


Pada suatu masa (ceilah) ada beberapa pesan alias direct message alias dm yang masuk di akun instagramku, dm ini ada dari teman yang memang kenal di dunia nyata, ada juga teman yang kenal di dunia  maya, bahkan ada juga dari orang yang aku juga nggak kenal. Dm- dm ini isinya kurang lebih sama : "Mbak, kok piknik terus sih?", "Mbak, enak ya jalan-jalan terus.", atau "Mbak, bahagia banget ya hidupnya." Duh gimana ya, aku jadi nggak bisa bayangin berapa banyak DM serupa yang masuk di IG para influencer yang feed instagramnya isinya barang branded dan foto liburan mulu itu. Tapi aku ini bukannya mau nyinyirin dm- dm itu ya, menurut aku boleh kok dm dan tanya begitu asal yang ditanya nggak merasa terganggu.

Yang bikin aku penasaran adalah, apakah yang bertanya merasa hidupnya kurang bahagia jadi nanya ke orang yang kelihatan bahagia atau karena merasa sama-sama bahagia jadinya menanyakan hal itu supaya nanti bisa ngajakin bikin grup bahagia? Atau hanyalah kepo semata? Dan karena hal itu, aku jadi pengen menulis tentang kebahagiaan atau lebih tepatnya tentang ibu yang bahagia. Kenapa? karena ketika ibu bahagia maka anak dan suami akan bahagia juga, anak pun akan dididik dengan lebih penuh kasih sayang kalau si ibu bahagia. 

Merespon pernyataan, "Mbak, bahagia banget ya hidupnya." yhaaaaaa gimana ya, memang aku itu bahagia. Sedihnya, aku kadang melihat banyak orang yang kesulitan merasa bahagia. No, ini bukan aku asal judge ya tapi coba deh mampir ke lapak orang-orang kontroversial, ntar kalo ada komen julid nah itu tuh contoh orang kurang bahagia.

"Eh siapa tahu yang komen julid, hermes bagnya ngalahin punya Jammie Chua."

Mon maap, orang bahagia mah nggak ada waktu, nggak bisa, nggak mau, nggak sempat, ngomong atau melakukan hal-hal jelek. Lagian nggak ada korelasi pasti antara harta dan kebahagiaan. Hidup itu kayak sebuah ruangan, hal-hal buruk/negatif ibarat kegelapan dan hal-hal positif itu ibarat cahaya. Ketika ruangan gelap gulita apa yang kita lakukan? nyalain lilin, pasang listrik biar bisa nyalain lampu, lampu kuning 5 watt ngga terang ganti lampu LED yang terang benderang. Kita melakukan hal-hal yang membuat cahaya di ruangan itu menjadi banyak sehingga kegelapan berangsur-angsur sirna. Sama kayak kehidupan, ketika kita merasa hidup kok sengsara terus, sial terus, duit pas-pasan terus, diomongin tetangga terus, berantem sama mertua terus, dimarahi bos terus, pokoknya yang jelek-jelek coba lakukan hal baik untuk 'menerangi kegelapan' sehingga hal-hal negatif hilang dari hidup kita. Kadang segalanya itu tentang perspektif kok, kenapa hidup kok sengsara terus..oh mungkin supaya menjadi pribadi yang kuat, kenapa kok diomongin tetangga terus... oh mungkin karena mereka aslinya pengen kenal dekat dengan kita atau karena kitanya yang kurang ramah jadi akhirnya kita belajar ramah, dan seterusnya. Melakukan hal baik itu juga nggak harus nyumbang 10 Milyar ke korban bencana alam, ngebersihin sendiri meja di restoran, senyum sama orang asing, atau sesimple mensyukuri apa yang kita punya dan berterima kasih sama Tuhan. 

Tapi ya, memulai sesuatu yang positif itu agak susah. Apalagi buat ibu-ibu yang nggak ada liburnya, baik itu yang full di rumah, punya wirausaha sendiri atau sambil bekerja. Semua Ibu sama, nggak ada liburnya. Belum kalau suaminya nggak mau bantuin atau kalau anaknya rewel, beuh. Kalau aku pribadi, aku melakukan beberapa hal di bawah ini untuk menjaga pikiran tetap dalam mood yang baik :

1. Mencintai Diri Sendiri
Nggak senarsistik pak Lee nya Kim Mi So sih, tapi setidaknya dengan mencintai diri sendiri kita nggak perlu sakit hati dan susah-susah membandingkan diri dengan orang lain. Melahirkan jelas akan bikin kulit dan bentuk tubuh berubah, tapi bukan berarti kita harus banget diet mati-matian demi bisa punya body kayak Dian Sastro. Take it easy. Dietlah karena obesitas itu nggak sehat, bukan karena kita harus banget kayak Dian Sastro. Karena kalo kita aja nggak pede dan nggak mencintai diri sendiri, gimana dengan orang lain? Jadi nggak usah bilang,"Abaikan perut yang bergelambir ini" di caption Ig karena hey... itu body shamming pada diri sendiri lho yaaaa.

2. Bersyukur
Susah, tapi pasti bisa dilakukan. Jangan pernah, please jangan pernah membandingkan hidupmu dengan orang lain dan iri hati. "Nia Ramadhani mah enak pembantunya banyak, nggak kayak aku nih harus 24 jam urus rumah.". Tapi Nia Ramadhani hidupnya disorot media, harus jaga image diri dan suami, dia nggak bisa kayak kita masih muka bantal, ileran, pake daster belanja ke pasar lalu hahahihi sama bakul lombok dan berujung dapat resep sambal matah yang cihuy. Percayalah, Tuhan dan Semesta itu lebih tahu gimana porsi yang pas buat kita bahagia. Selain itu kalau kamu ngeluh mulu, lama-lama yang 'ngasih' berkat juga jadi males lah ya, ini orang dikasih berat makasih aja nggak pernah ngapain Aku percayakan berkat yang lebih besar?

Biasanya untuk membantu bersyukur aku nulis gratitude journal, isinya cuma 5 ucapan syukur atas hal baik yang terjadi hari itu. Ucapan syukurnya boleh apa aja yang menurutmu baik hari itu dan nulisnya jangan cuma satu kalimat kayak, "Aku bersyukur punya suami baik." tapi nulisnya, "Aku bersykur punya suami baik yang mau bantuin nyuci baju tiap hari dan mijitin kakiku karena aku capek." Dengan menulis, otak kita akan mengingat kembali hal-hal baik, melupakan hal-hal buruk dan hati akan terasa hangat. Gratitude journal juga membuat kita 'mikir' dan berusaha mencari hal baik yang terjadi hari itu, meski mungkin itu hanya sesimple " Untung tadi bangun pagi, jadi aku masih kebagian touge di penjual sayur. Aku jadi bisa masak soto ayam hari ini."Get it?

3. Me time
Me time itu maha penting buat ibu-ibu, terserah mau kapan aja dan ngapain aja. Kalau aku me time itu sama dengan ngeblog, baca, nonton drakor, maskeran, ngopi, traveling dan belanja. Biasanya aku minta hari libur masak, terserah mau jajan atau suami yang masak. Biasanya aku juga bangun lebih awal untuk buka sosmed, baca, nulis jurnal dan bikin kopi jadi ketika Keira bangun aku udah siap. Ya walau berarti dengan adanya me time, kita akan tidur lebih malam dan bangun lebih pagi tapi menurutku its worth it. Cobain aja, kamu bangun tidur langsung kerja atau ngurus rumah tangga dibanding kamu bangun tidur mandi dulu, skincarean dulu, bikin teh/kopi untuk diri sendiri dulu sambil nulis jurnal atau baca buku baru abis itu kerja atau ngurus rumah tangga. Rasakan bedanya!

4. Hindari hal-hal yang membawa energi negatif
Tubuh kita itu memancarkan energi yang biasanya akan menarik energi dengan frekuensi yang sama, nggak percaya? Coba kalau ada orang yang moodnya jelek, liat dia aja kita biasanya jadi ikut sebel. Atau kalau pagi udah uring-uringan,biasanya seharian hal yang terjadi juga jadi nyebelin semua. Nah maka dari itu pancarkanlah energi yang positif. Kalau sebel sama komen di lapak pak Jokowi ya nggak usah dibaca, kalau nggak suka sama postingan atau hidup sesorang ya nggak usah dilihat, kalau temennya nyebelin ya coba ditanya apa maunya, kalau tetep nyebelin ya udah ditinggal aja. Jangan juga suka memendam perasaan benci, kalau misal nggak suka suami buang sampah sembarangan ya udah sih ditegur aja jangan dipendam. Cuma kamu yang tahu apa aja hal yang bikin kesel hatimu, kalau bikin kesel JANGAN DILAKUKAN.

Sebaiknya kita melakukan hal-hal yang energinya positif, misalnya komen yang baik-baik, lihat yang baik-baik, kalaupun ada temen yang kurang benar negurnya yang sopan, kalau kita salah ya minta maaf, ada masalah ya diomongin jangan malah diomongin dibelakang, senyum, salam, sapa, bilang terima kasih, menghargai orang lain, dan lain lain.

5. Curhat
Perasaan jangan dipendam, sampaikan saja, curhatkan saja supaya lega. Tapi ingat! usahakan jangan curhat hal-hal pribadi banget di sosial media ya, karena kita nggak pernah tahu apakah orang itu banyakan keponya atau simpatinya. Curhat paling bener itu sama Tuhan karena Dia nggak bakalan ember dan bisa kasih solusi paling tok cer, alternatif lain bisa sama suami, sahabat, keluarga atau siapaun yang benar-benar bisa dipercaya. 


Kayaknya cuma itu aja sih yang sering aku lakukan, itu kalau mau dijabarkan lagi ampe detail banyak banget terapannya. Silahkan diterapkan sesuai kehidupan masing-masing ya. Dan satu lagi, bahagia itu bukan berarti nggak pernah kecewa, marah, atau sedih sama sekali, bahagia bukan tentang hidup yang ketawa terus karena yang ketawa terus cuma orang gila shaaaaay~ Bhagia dalah tentang cara kita memandang dan memaknai setiap fase kehidupan sehingga kita bisa melihat hal baik dan belajar dari kehidupan.


Nah, udah bahagia belum?








1 comment:

Feel free to ask anything, leave your comment. No SARA please :)