The Ordinary Glycolic Acid 7% Toning Solution

Semenjak merasakan dahsyatnya manfaat double toning dan double cleansing, aku jadi gemar memakai exfo toner. Dan setelah pencarian panjangku akhirnya aku menemukan exfo toner yang sudah ku repurchase berkali-kali  yaitu The Ordinary Clycolic Acid 7% Toning Solution. Toner dari The Ordinary ini diklaim bebas alkohol, minyak, silikon dan bebas bahan berbahaya dengan kandungan PH 3.5 - 3.7 yang tentunya mana untuk kulit. Kandungan Glycolic Acidnya yang cuma sebesar 7% membuat toner ini cukup mild untuk dipakai setiap hari. Selain itu toner ini juga mengandung asam amino, aloe vera, tasmanian pepperberry dan gingseng. Formula yang cukup unik dan menarik kan?


Packaging
Botolnya The Ordinary Glicolyc Acid ini guede buangetttt!! ya maklum sih, soalnya kan sizenya 240 ml. Dari the Ordinary sendiri ada bawaan tutup seperti corong gitu yang memudahkan kita untuk nuang produknya, tapi aku males pakai itu karena botolnya gede banget. Jadi kalau aku, biasanya isinya aku pindah ke botol flip top yang lebih kecil dan travel friendly (beli di Miniso) supaya lebih mudah makai dan baw kemana-mana.

Ingredients
Aqua (Water), Glycolic Acid, Rosa damascena flower water, Centaurea cyanus flower water, Aloe Barbadensis Leaf Water, Propanediol, Glycerin, Triethanolamine, Aminomethyl Propanol, Panax Ginseng Root Extract, Tasmannia Lanceolata Fruit/Leaf Extract, Aspartic Acid, Alanine, Glycine, Serine, Valine, Isoleucine, Proline, Threonine, Histidine, Phenylalanine, Glutamic Acid, Arginine, PCA, Sodium PCA, Sodium Lactate, Fructose, Glucose, Sucrose, Urea, Hexyl Nicotinate, Dextrin, Citric Acid, Polysorbate 20, Gellan Gum, Trisodium Ethylenediamine Disuccinate, Sodium Chloride, Hexylene Glycol, Potassium Sorbate, Sodium Benzoate, 1,2-Hexanediol, Caprylyl Glycol.

Tekstur
Tekstur cair hampir mirip air, tapi agak kentalan toner ini dikiiiiiit. Meski begitu mudah kok dituang dikapas dan dioles ke muka. Dia juga cepat kering dan cepat juga meresapnya, karena kalau exfo toner kan memang sebaiknya ditunggu kering dulu baru ditumpuk pakai hydrating toner. Jadi aku emang malas kalau pakai toner yang meresap atau keringnya lama, keburu mager euy pakai step selanjutnya.


Cara dan waktu pemakaian
The Ordinary Glycolic Acid 7% Toning Solution ini mengandung AHA yang bikin hipersensitif  terhadap cahaya matahari jadi sebaiknya dipakainya saat malam hari. Selain itu karena sifatnya exfoliating jadi sebaiknya makainya sehari sekali aja atau dua hari sekali, jangan karena saking semangatnya pengen punya kulit glowing jadi dipakai sehari 3 kali ya. 

Cara pakainya, tuang ke kapas, usapkan ke muka dan leher, hindari daerah sensitif sekitaran mata dan tunggu hingga kering/meresap baru deh dikasih toner atau essence yang melembabkan.

Performa
Toner kesayangan!

Semenjak memakai The Ordinary Glycolic Acid 7% Toning Solution aku hampir nggak pernah punya masalah dengan komedo, kulit terasa lebih bersih dan cerah, nggak ada lagi kusam kusaman di muka,  serta pori-pori terasa lebih rapat dibandingkan dulu saat masih ala kadarnya kalau pakai toner. Menurutku toner ini juga sangat mild, clekit-clekit cuma di awal pemakaian aja selebihnya nggak ada masalah dikulitku meski aku pakai tiap hari. Cuma memang jika tidak memakai hydrating toner kulit terasa lebih kering dari biasanya, tapi ya itu efek yang wajar sih kalau kamu pakai exfo toner. Makanya aku sudah beli ini sampai 3x lebih deh, belum ingin berpaling ke merk lain atau ke formula yang lebih strong. Aku masih merasa cukup.

Harganya juga cukup terjangkau kok, Rp 230.000 an untuk ukuran 240ml.


Kesimpulan:
Plus :
+ Mengangkat sel kulit mati
+ Mencerahkan
+ Menghilangkan komedo
+ Harga terjangkau

Minus :
- Kemasannya super besar jadi tidak praktis
- Membuat kulit kering


REPURCHASE? Tentu saja! aku sudah repurchase berulang kali, tenpr exfo kesayangan deh!


Disclaimer : Semua review yang aku buat merupakan produk yang aku beli sendiri dan benar-benar aku coba sendiri. Tidak semua orang memiliki kulit yang sama dan reaksi pada tiap orang bisa jadi berbeda, selain itu setiap orang juga memiliki reaksi alergi yang berbeda-beda. Sebainya lakukan patch test atau mengecek komposisi sebelum mencoba suatu produk.
Doodle Exclusive Telon Oil

Ada satu item yang sejak Keira lahir hingga sekarang tidak pernah absen dipakai setiap hari : minyak telon. Dulu waktu masih bayi minyak telon ini fungsinya penting banget untuk menjaga kehangatan,. Selain itu aku pribadi seneng aja gitu sama aroma khas minyak telon, kayaknya kalau udah pakai minyak telon tuh si bayi jadi berasa bersih dan harum. Enak buat diunyel-unyel dan dipelak peluk. Nah seiring bertambahnya usia, manfaat minyak telon bergeser untuk menghindarkan nyamuk. Udah pada tahu kan kan kalau ada minyak telon plus yang aromanya tak disukai nyamuk? Jadi sampai sekarang Keira memang masih pakai minyak telon setelah mandi sebagai anti nyamuk karena to be honest aku nggak begitu suka pakai anti nyamuk versi lotion yang beredar di pasaran.

Nah beberapa saat yang lalu aku nyobain Doodle Exclusive Telon Oil, minyak telon plus dengan wangi green tea. Menarik banget kan ada minyak telon bau green tea? Karena biasanya minyak telon baunya ya gitu-gitu aja. Beberapa minyak telon malah baunya cenderung strong dan menyengat banget. Waktu tahu kalau Doodle ini bau green tea, bayanganku langsung baunya pasti kayak matcha gitu, yang ternyata setelah aku coba malah lebih enak lagi baunya dibanding bau matcha. Saking enaknya bau Doodle Exclusive Telon Oil ini aku sampai ikutan pakai, soalnya baunya sama sekali nggak kayak minyak telon sih.
Doodle Exclusive Telon Oil konon bisa membantu meredakan gejala masuk angin, memberikan rasa hangat dan nyaman pada bayi serta menghindarkan nyamuk.  Kali ini aku akan coba kasih review Doodle Exclusive Telon Oil setelah pemakaian sebulanan ya!

1. Packaging
Packaging Doodle

Doodle Exclusive Telon Oil ini hadir dalam kemasan botol fliptop, ada kemasan 100 ml dan 60 ml (travel size). Kemasannya sendiri bisa menyimpan produk dengan baik dan saat menuang produk untuk pemakaian juga nggak langsung tumpah banyak. Menurutku ini penting banget karena kadang saking semangatnya buka tutup botol minyak, isinya dengan mudah tumpah. Belom lagi kalau dimainin anak-anak, bisa berhamburan tuh kan kalau tutupnya nggak rapet dan isinya mudah keluar. Sedangkan Doodle Exclusive Telon Oil produknya keluarnya sedikit aja saat dituang, jadi mudah ngaturnya mau seberapa, tutupnya juga rapet dan nggak mudah terbuka atau pecah meski kebanting-banting.
Doodle ini packagingnya juga niat banget deh menurutku, kemasannya exclusive dengan pattern yang khas. Cocok dengan konsep “We bring tradition to the Future” karena yaaa… dari jaman nenek buyut kita dulu kan memang bayi sudah terbiasa di kasih minyak kan.

2. Ingredients
Oleum cocos 43%, Oleum Cajuputi 47%, Oleum Anisi 5%, Oleum Green Tea 5%.

Nah salah satu hal yang aku suka dari Doodle Exclusive Telon Oil adalah ingredientsnya yang simple dan alami. Seperti yang kita tahu, kulit bayi biasanya sensitif makanya produk yang dipakai juga haruslah menggunakan bahan yang aman. Banyak bayi yang cenderung alergi dengan minyak telon yang terlalu banyak campuran bahan kimianya. Kalau bayimu termasuk yang punya kulit sensitif bisa cobain Doodle ini karena bahan-bahan diatas termasuk bahan yang aman untuk kulit dan meski sederhana namun tetep ampuh lho!

3. Tekstur dan Aroma
Aku suka bangeeeet sama aroma Doodle Exclusive Telon Oil, baunya itu soft banget. Beberapa minyak telon di pasaran kan baunya strong menyengat khas gimana gitu ya, apalagi yang minyak telon plus. Namun ajaibnya meski berlabel minyak telon plus tapi Doodle Exclusive Telon Oil ini baunya soft dan enak banget. Saking enaknya aku pede jaya pakai juga, huahahahha. Kalau misalnya di rumah kamu punya diffuser cobain deh pakai minyak telon Doodle buat di diffuser, aromanya enak, tidur jadi nyenyak, pikiran relaks, dapat bonus nyamuknya kabur.

Tekstur Doodle Exclusive Telon Oil ini cukup cepat meresap di kulit, jadi nggak bikin klomoh-klomoh penuh minyak gitu ya kalau dipakai. Aku biasa memakaikan doodle ini nggak Cuma di perut dan punggung tapi ditangan, leher, dan kaki Keira dan memang langsung meresap gitu jadi aman kalau setelahnya dia main-main. Terus aku pribadi juga pakai di tangan dan kaki setelah pakai lotion, Doodle Exclusive Telon Oil ini bisa meresap dengan baik.

4. Performa
Performa Doodle ini cukup baik!!

Minyak telon Doodle ini hangatnya pas, nggak terlalu panas jadi cocok untuk bayi. Beberapa saat lalu waktu bepergian aku sengaja bawa Doodle ini, kebetulan pas itu Keira udah mulai pucet kepengin muntah (Keira anaknya mabuk darat), aku langsung oles-oles Doodle di perut, dada dan punggung. Setelah itu Keira tidur pules nggak jadi muntah. Maturnuwun Gusti.

Sesuai klaimnya, Doodle Exclusive Telon Oil ini juga beneran menghindarkan nyamuk lho! Itulah alasan kenapa aku yang sudah renta bukan bayi ini ikutan pakai Doodle juga, karena eh karena di rumahku itu nyamuknya ganas-ganas. Biasanya kalau sore menjelang maghrib itu, duduk manis di ruang tengah aja bisa jadi santapan empuk nyamuk. Semenjak aku pakai Doodle ini, beneran aku nggak pernah gatal-gatal digigit nyamuk lagi. Keira juga termasuk gampang banget digigit nyamuk, sampai dibilang “kulit kentang” sama ibuku saking banyak bekas gigitan nyamuk di kakinya. Semenjak pakai Doodle Exclusive Telon Oil ini dia juga juarang banget gatal-gatal digigit nyamuk. Aku jadi tenang membiarkan dia main di taman atau kebun karena yakin nyamuk bakalan jauh-jauh dari Keira!

Begitulah ceritaku soal minyak telon istimewa ini. Inti review Doodle Exclusive Telon Oil adalah aku cinta buanget sama Doodle dan bakal beralih ke Doodle. Aku bakal repurchase lagi kalau yang ini udah habis toh harganya juga sangat bersahabat buat rekening tabungan. Harga Doodle ini cukup Rp 39.000 untuk ukuran 100 ml , terjangkau kan? Kalau pengen beli, kamu bisa beli di marketplace seperti Shopee, Tokopedia, Bukalapak, JDID, Lazada dan Lemonilo. Kalau pengen tahu lebih lanjut soal Doodle kamu bisa intip Instagramnya di @telon.doodle atau cek websitenya di Doodle.co.id semua lengkap ada di sana.

Photo by Artem Beliaikin from Pexels

Biasanya menjelang akhir tahun aku ngecekin Goodreads buat lihat nominasi buku tahun itu sekalian ngecek berapa jumlah buku yang aku baca. Langsung kaget waktu menyadari bahwa tahun ini aku baru membaca 7 buah buku saja! Padahal biasanya dalam setahun minimal aku baca 20 buah buku. Huwaaaa…. Sebegitu sibukkah aku sampai nggak sempat baca buku? Padahal jika dipikir-pikir kayaknya jadi ibu rumah tangga itu waktu senggangnya banyak. Tapi kok malah nggak pernah baca buku? Apakah aku terlalu banyak rebahan dan secroll sana sini ???? Maka kubisikkan niat dalam hati :  baiklah mulai besok pagi aku akan baca buku lagi!
Paginya aku bangun lebih pagi lalu ku seduh secangkir kopi. Sambil duduk di meja makan aku nyalakan Nookku, baru saja aku membaca satu lembar Keira berteriak dari kamar, dia minta dibuatkan susu sambil dikelonin lagi. Ketika akhirnya Keira sudah tenang, jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Baiklah aktivitas pagi sudah harus mulai, waktunya masak, siapin Keira ke sekolah, antar Keira kesekolah, temenin Keira main, ngelonin Keira tidur siang, lanjut ngurusin Youtube, lanjut mandiin Keira, lanjut mencuci dan beresin rumah. Malamnya menjelang tidur aku menyadari kalau ereaderku masih anteng di atas meja makan, tak tersentuh. Oh, gagal sudah rencana baca bukuku.
Begitulah, ternyata sejak menjadi ibu rumah tangga aku malah cenderung tidak punya waktu untuk diriku. Terlalu sibuk menemani tumbuh kembang anak dan memastikan baju suami tersetrika rapi malah pada akhirnya membuatku lupa untuk memberi waktu bagi diri sendiri. Beruntung ada Goodreads yang mengingatkanku betapa selama ini aku sudah “abai” pada diriku. Padahal konon setiap hari kita berhutang 1 jam pada diri sendiri untuk melakukan me time, cuma 1 jam dari 24 jam  sebagai bentuk ucapan terima kasih pada diri atas kerja keras yang sudah kita lakukan.
Make time for yourself, guampang banget diucapin tapi susah dijalanin. Gimana mau me time kalau cucian segambreng?? Gimana mau baca buku kalau rumah kayak kapal pecah? Gimana mau maskeran cantik kalau anaknya ngajak nari hula-hula? Well… to be honest its really challenging for me to have a me time moment. Awalnya ku abaikan saja, nggak apalah yang penting rumah rapi, pakaian bersih, anak dan suami bahagia. Namun ternyata ada sisi gelap diujung hati yang memberontak, makin lama makin besar dan akhirnya meledak, DHUARRR!!! Aku jadi uring-uringan, emosional, suka sebel kalo habis beberes eh 5 detik kemudian udah berantakan lagi, suka iri kalau suami capacity building atau ada acara kantor kemana gitu. AKU JUGA MAUUUUUU!! AKU BOSAAAAN DI RUMAH!! Pada akhirnya aku merasa tidak bahagia, dan ketika ibu tidak bahagia no one else would. Aku mulai menganggap ini adalah masalah serius, harus mulai diperhatikan dan ditangani dengan baik. Jadi bagi ibu di luar sana yang merasa sedih tanpa sebab, merasa butuh piknik dan hawanya emosional terus kayak aku mungkin kita sama : Butuh waktu rehat sejenak, entah itu 1 jam/ hari, dua kali seminggu atau satu kali seminggu. Entah itu sekedar maskeran, baca buku atau malah jalan-jalan dengan teman. Tentunya kita butuh strategi supaya bisa me time dengan tenang, kali ini aku bisikin strategi me time ala aku, siapa tahu bisa bermanfaat ya !

1.    Komunikasikan dengan suami
Suami adalah partner dan sahabat yang sudah berjanji akan bersama dalam suka dan duka, jadi semestinya kalau memang butuh rehat ya jujur saja. Dulu aku sempat sungkan sih, karena merasa suami sudah kerja keras bagai lebah untuk mencukupi kebutuhan hidup kami masak masih harus dicurhatin kalau istrinya butuh istirahat sejenak. Tapi ku pikir-pikir, aku ini kan juga sudah bekerja keras bagai bidadai untuk memastikan Keira terawat dengan baik, rumah layak dihuni, baju bersih, rapi dan wangi plus memastikan keluarga bisa makan tanpa jajan di warteg. Jadi kalau suami aja dapat waktu istirahat sejam di kantornya kenapa aku enggak?? Dari situ aku mulai bilang kalau aku butuh waktu minimal sejam buat doing something that I love, dan minta suami ngawasin Keira. Aku tambahin alasan lain supaya suami jadi semangat ngawasin Keira, “Supaya ayah punya bonding dan dekat juga sama anaknya, memangnya mau selamanya Keira cuma dekat sama ibunya?” Lumayanlah, sekarang setiap sore aku punya waktu antara 30 menit - 1 jam, bebas mau ngapain aja. Biasanya sih aku pakai buat nonton Netflix atau buka buka sosial media. Thank you Husband!

2.    Sediakan waktu
Kalau nurutin kerjaan, pekerjaan rumah tangga itu jebulane nggak ada habisnya. Adaaaaa terus yang dikerjain. Jadi kalau mau me time memang haus banget disediakan waktu khusus dan saat itu harus merem aja lihat mainan berserakan, toh nanti kalau me time sudah selesai kan bisa dikerjakan lagi. Aku sendiri berusaha bangun minimal 30 menit sebelum jam aktivitas rumah tangga dimulai, waktu pagi ini biasanya aku pakai untuk meditasi, journaling, renungan pagi dan kalau sempet olahraga ringan. Pada kenyataannya, kadang Keira ikut bangun kalau aku bangun pagi-pagi buta, nah kalau udah gini biasanya buyar sih acara me time paginya. Palingan cuma bisa renungan pagi doang.

Semenjak Keira sekolah aku lumayan punya waktu ekstra buat sekedar balesin komentar, cek email, nonton atau baca buku. Lumayanlah ya 1,5 jam sambil nunggu Keira. Meskipun juga pada kenyataannya, dari 1.5 jam itu paling 30 menit doang yang efektif buat baca buku atau balesin pertanyaan dari netijen, karena endingnya tetep ngobrol sama sesama ibu-ibu yang nungguin anaknya. Hey, tapi kan kita memang makhluk sosial kan? Kadang ngobrol sama manusia lain itu juga bisa melepas pedih penat pikiran sih.

So, buat yang mau me time memang sebaiknya beneran di sediakan waktunya, apakah itu pagi, siang atau malam saat anaknya kondusif. Apakah itu mau setengah jam apa mau dua jam. Karena kalau nggak kita “paksakan”, susah sih memang dapat waktunya.

3.    Realistis alias nggak usah ketinggian ekpektasi.
Realistis di sini mencakup dua hal : realistis soal pekerjaan rumah dan soal me time. Realistis soal pekerjaan rumah maksudnya, yah… kita nggak harus terlalu perfeksionis banget, kadang ada baiknya juga kita sedikit santuy. Misalnya gini, sudah waktunya ibu me time karena anak baru tidur siang. Eh tapiiii kok itu cucian piring numpuk yaaaa~ Ya sudahlah ya, nggak usah berkepektasi terlalu tinggi rumah harus super rapi dan bersih baru kita deserve buat me time. Abaikan dulu tuh cucian piring, bikin the dulu, duduk manis relaks dulu, recharge energy baru deh kerjain cuciannya. Daripada ya, kita cuci piring duluan, eh habis itu anaknya bangun. Huahahahah bye bye me time.

Realistis yang ledua adalah soal me timenya, nggak usah terlalu muluk-muluk harus sekian jam setiap hari, harus spa atau menicure pedicure, creambath, baca buku sekian bab. Ya kalau anaknya memang baru rewel dan kita cuma punya waktu 30 menit ya lakukan saja apa yang sekiranya bisa bikin kita happy meski cuma dilakukan dalam waktu sebentar : misalnya nonton video pendek yang lucu, chat sama teman, scrolling online shop (lalu minta dicheckoutin suami) atau sekedar bikin/order kopi favorit. Sometimes its not about quantity, its abaout quality. Ingat ya, kadang ekpektasi berlebih itulah yang malah bikin kita bersedih.

To be honest aku sendiri masih belum dalam kondisi stabil soal me time ini, kadang iya kadang enggak, kadang inget kadang lupa. Namun 3 hal diatas lumayan membantuku untuk punya sedikit waktu buat diri sendiri. Relationship dengan suami dan anak pun semakin membaik, aku sendiri sudah tidak begitu merasa stress atau tertekan lagi. Yah memang segala sesuatunya kadang harus seimbang, kita tidak bisa sibuk mencintai dan memperhatikan orang lain lalu lantas abai pada diri sendiri. Semoga kalian juga bisa menemukan waktu dan cara untuk berterima kasih pada diri atas kerja karas yang sudah dilakukan ya.

(Butuh ide me time? baca juga : Me time singkat ala ibu rumah tangga yang ditulis oleh mbak Ella-Nyonya malas ya!)




Photo by Lum3n.com from Pexels


Dulu waktu kecil, aku ingin sekali menjadi dokter karena kakekku sakit-sakitan. Namun sayangnya sebelum aku lulus SMP, kakekku dipanggil Tuhan. Setelah lulus SMA karena dana terbatas akhirnya aku kuliah kebidanan, ibuku selalu berpesan supaya aku menjadi wanita yang mandiri. Menjadi Bidan bagiku merupakan jalan untuk mandiri, setidaknya aku bisa lah buka praktek di rumah kalau tidak bekerja di rumah sakit atau puskesmas. Mimpi itu terwujud ketika akhirnya aku bekerja di sebuah rumah sakit swasta, kesempatan untuk membangun karir dan belajar terbuka lebar. Sampai akhirnya aku menikah, punya anak dan harus memilih : terus bekerja atau mendampingi suami yang kebetulan dinasnya berpindah-pindah? Sebenarnya kegalauan itu sudah pernah aku tulis di postingan ini sih, hiya hiya. 

Pada akhirnya aku memilih menjadi ibu rumah tangga, tapi ada beberapa hal yang i wish i knew before i choose to be stay at home mom. Hal-hal yang semestinya dipersiapkan dengan baik supaya hati dan mental lebih siap menjalani peran yang baru dengan bahagia. Meski aku sudah melakukan hal yang membuat ibu bahagia (baca juga : Menjadi ibu yang bahagia) namun hilangnya beberapa aspek dari kehidupan sebelumnya ternyata memberikan pengaruh yang cukup besar. Aku sempat depresi yang suka nangis sendiri, marah sendiri, ngamuk sendiri. Kalau dipikir-pikir sabar juga ya suamiku itu menghadapi diriku ini, puji syukur punya suami seperti dia. Apa saja hal itu?

1. Manajemen Waktu yang baik
Aku suka banget segala hal yang terjadwal rapi, jadi ketika menjadi ibu rumah tangga aku syok banget karena nggak bisa bikin jadwal dengan baik. Hal ini sangat menganggu dan bikin aku sebal sepanjang waktu. Ya gimana ya, tadi ngrendem baju mau nyuci eh anaknya ngajak main lalu habis main ngantuk, akhirnya buyar acara mencuci. Misal mau masak, anaknya rewel nggak bisa ditinggal masak, akhirnya anaknya dikasih tepung biar anteng eh malah tepungnya jadi rata satu dapur. AKU KESEEEEL BUNDAAAA~~

Manajemen waktu yang kurang baik ini akhirnya bikin aku jadi kesusahan juga mencari waktu me time, lalu berasa uring-uringan karena kerjaan nggak pernah beres. Akhirnya jadi emosional berkepanjangan. Beda dengan saat masih bekerja dulu, meski tidur lebih malam dan bangun lebih pagi tapi segalanya sudah terjadwal dan aku sudah ada bayangan kira-kira hari itu mau ngapain. Kalau sekarang, rasanya kayak bangun tidur tak ada bayangan hari ini mau ngapain. Maka kalau kamu memutuskan mau jadi ibu rumah tangga dan kamu suka menjadwal segala seuatu kayak aku, sebaiknya kamu turunkan standartmu supaya nggak terlalu berekpektasi kayak aku.

Iya, standar ekpektasi yang ketinggian itu yang suka bikin sakit hati. Misalnya rumah harus selalu always rapi kayak di gambar pinterest, ibu harus sempurna memasak, setrikaan harus rapi jali . Menjadi ibu rumah tangga tanpa asisten mau nggak mau kita harus menurunkan standart, kalau nggak bisa emosional dan stress sendiri. Tentukan juga prioritas, misalnya kalau aku yang penting rumah bersih nggak rapi amat juga nggak apa, masak juga nggak harus yang enak dan mewah terus, nycui juga sesempetnya aja kalau capek ya laundry dan seterusnya.

2. Kehidupan sosial
We need another human being! Manusia perlu berinteraksi dengan manusia lain, bukan cuma via chat tapi beneran ketemu langsung, tatap muka, ghibah bareng, jajan bareng, melakukan suatu kegiatan bareng. Hal yang paling terasa setelah menjadi ibu rumah tangga adalah : Aku kesepian. Kadangkala rindu rekan sejawat, membahas studi kasus terbaru, membahas deg-degannya ketika ada kasus emergency atau sekedar saling tukar resep masakan dan ngobrolin perilaku suami masing-masing. Memang, ketika menjadi ibu rumah tangga kita masih punya tetangga, atau ibu dari teman anak kita. Namun kadang karena background yang berbeda (apalagi hidupku nomaden ya), obrolan yang ada pun masih terasa sungkan dan berbasa-basi. Beda dengan ketika kita ngobrol dengan teman lama yang sudah hapal segala pahit manis dan kebusukan kita, pasti ngobrolnya akan lebih santuy dan apa adanya. Sometimes, I really miss my friends. 

Jadi mungkin saat kamu memutuskan menjadi ibu rumah tangga, pastikan kamu tetap punya kehidupan sosial. Kalau rumahmu dekat dengan kawan lama, bisalah sesekali playdate atau ketemuan. Mereka nggak ngajakin? ya kamulah yang ngajakin duluan. Atau kalau hidupmu nomaden kayak aku, kamu bisa mencari komunitas tertentu yang sesuai minat bakatmu. Jangan sampai kamu kayak aku, berbulan-bulan merasa selalu ada yang kurang, ada yang nggak pas, ada yang kosong, tapi nggak tahu apa. Ternyata aku cuma kurang bertemu orang. SAD!

3. Keuangan
Soal keuangan ini perlu diperbincangkan dan dibahas dengan suami, karena pasti ada perbedaan dari double income ke single income. Perbedaan rasa belanja pakai duit sendiri dengan pakai duit suami. Dalam kasusku, dari segi jumlah sebenarnya perbedaannya nggak bikin syok sih, karena walau dulu double income tapi biaya LDR Jogja-NTT itu lumayan juga : duitnya habis di ongkos. Cuma sebelum memutuskan resign aku tanya dulu sama suami, aoakah nanti tetep boleh jajan skincare? apakah tetep boleh belanja baju suka-suka? apakah dia mau bayarin biaya maintenance blog ini? yah at least supaya dia tahu ada biaya-biaya yang perlu dikeluarkan di luar biaya hidup primer. Untungnya suami mengiyakan dan menepati janji soal keuangan ini, jadi bagiku nggak beda jauh sih cuma bedanya mungkin jadi berasa agak sungkan gitu kalau belanjanya kebanyakan.


Hak-hal diatas adalah hal yang aku harap bisa aku persiapkan dengan lebih baik sehingga membuatku menjadi ibu yang kebih tenang dibandingkan sekarang. Meski aku akui dukungan suami dan pengertiannya berperan sangat besar dalam masa peralihan ini, kalau dia nggak sabar entah jadi apa deh pernikahan kami. Pada akhirnya memang pernikahan tak melulu cuma soal cinta, tapi juga komitmen dan suatu pemahaman bahwa menjadi ibu kan memang sebuah proses yang tidak selalu shinning shimmery splendid kan ya, jadi ndak apa-apa kalau tidak sempurna.

Selamat menjadi ibu, semoga selalu sehat dan bahagia.