Lemonih terbuat dari lemon, jahe merah dan kayu manis

Sudah sejak lama aku terbiasa minum lemon hangat saat pagi hari, baik itu dengan campuran madu atau hanya lemon hangat saja. Selain membantu menjaga berat badan agar tetap stabil, minum lemon juga bagiku sangat membantu meningkatkan imunitas terutama di era pandemi seperti sekarang ini. Rasa asam segar di pagi hari buatku juga cukup efektif bikin melek lho, siapa bilang biar segar harus minum kopi?

Berhubung aku ini termasuk manusia mager yang suka males kalau harus peres-peres lemon di pagi hari - apalagi kadang ketemu lemon yang suka susah diperes meski sudah pakai alat - Jadilah aku mulai nyari-nyari ekstrak lemon yang bisa praktis dikonsumsi. Tahun lalu, aku nemu nih ekstra lemon yang menurutku kandungannya cukup lengkap yaitu Lemonih.


Bulir ekstrak dari lemonih

Lemonih merupakan ekstrak lemon yang mengandung ekstrak jahe merah dan kayu manis yang tentunya 100% alami. Kalau kalian amati, di dasar kemasan biasanya akan terdapat bulir-bulir lemon dan jahe yang menunjukan Lemonih memang dibuat dari bahan alami bukan cuma ditambahin rasa buatan saja sehingga saat dikonsumsi pun rasa jahe dan lemonnya cukup terasa. Aku pribadi lebih senang mencampur Lemonih dengan air minum suhu ruang agar rasanya tidak terlalu strong. Lemonih ini mempunyai beberapa manfaat yaitu :

  • ·      Menambah daya tahan tubuh dan menjaga kesehatan tubuh
  • ·       Membersihkan usus dari toxin / racun dan menjaga kesehatan saluran pencernaan
  • ·       Membantu menyembuhkan GERD dan maag
  • ·       Membantu melancarkan BAB
  • ·       Membantu menurunkan berat badan dan mengecilkan perut

Cara konsumsinya mudah banget kok, kamu cukup minum 1 sdm lemonih 3x sehari yaitu saat bangun tidur, 20-40 menit sebelum makan siang dan sebelum tidur malam. Kalian bisa mengkonsumsinya secara langsung atau mencampur Lemonih dengan segelas air minum suhu ruang (tidak hangat).


Tambahkan lemonih ke dalam air minum

Kabar baiknya, Lemonih dapat dikonsumsi oleh ibu menyusui tanpa takut mempengaruhi ASI karena bahan yang digunakan alami. Selain itu kandungan jahe dipercaya dapat membantu pemulihan ibu pasca melahirkan dan sebagai galactagogue yang dapat membantu meningkatkan produksi ASI (sumber : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK501786/). Kandungan kayu manis dalam Lemonih juga kayu manis mengandung senyawa alami yang merangsang aliran ASI pada kelenjar susu. Namun tentunya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika ibu ingin berdiet saat menyusui yaitu :


1. Perhatikan asupan kalori

Saat menyusui sebenarnya ibu hanya membutuhkan tambahan kalori sebanyak 500 kal saja perhari atau setara dengan 1 porsi makan lengkap. Hal ini menunjukan ibu sebenarnya tidak perlu makan berlebihan atau 2x lipat dari porsi biasa. Saat menyusui juga biasanya ibu akan cenderung lebih mudah lapar, oleh karena itu pilihlah makanan dan cemilan yang berkalori rendah namun mengenyangkan seperti sayur dan buah. Perhatikan juga cara mengolah suatu makanan seperti misalnya pilih makanan yang direbus atau dikukus karena memiliki kalori lebih rendah dibandingkan makanan yang digoreng.


2. Perhatikan reaksi bayi

Saat berdiet perhatikan reaksi bayi, beberapa bayi sensitif terhadap makanan yang kita konsumsi. Misalnya ada bayi yang sensitif terhadap protein, sehingga saat ibu banyak mengkonsumsi protein maka bayi bisa saja menjadi rewel atau mengalami sembelit.


3. Perbanyak minum air putih

Minumlah air putih sebanyak 2-3 liter perhari, hal ini akan membantu meningkatkan metabolisme tubuh dan membantu meningkatkan produksi ASI. Ingat ya, ibu yang dehidrasi tentunya tidak bisa menghasilkan ASI yang melimpah.


4. Aktif bergerak

Ibu bisa melakukan olahraga atau aktif melakukan aktivitas sehari-hari. Ingat, pastikan luka pada perut sudah sembuh (jika ibu melahirkan secara SC) dan diastasis recti sudah menutup sebelum ibu melakukan olahraga. Mulailah olahraga dengan durasi, frekuensi dan intensitas yang ringan terlebih dahulu baru tambahkan intensitasnya sedikit demi sedikit setelah tubuh terbiasa.


5. Sabar dan konsisten

Tubuh kita membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membesar dan menjadi seperti sekarang, maka tentu saja tidak akan bisa kembali seperti saat kita gadis hanya dalam waktu singkat. Selalu sabar dan konsisten, jangan hanya fokus pada hasil namun jadikan prosessnya sebagai kebiasaan hidup yang sehat.

Nah buat ibu-ibu yang ingin tahu lebih lengkap mengenai tips diet setelah menyusui kalian bisa nonton video di Youtube Kriwilife atau klik di sini ya! Buat yang ingin beli Lemonih, bisa segera meluncur ke ecommerce atau bisa klik link ini ya!

Semoga sehat selalu!!!

 

 

 

 

sabar Bund!


Beberapa saat lalu di dunia maya beredar video seorang ibu yang mengajari anaknya menghafal pancasila tapi anaknya tak juga hafal akhirnya si ibu pun emosi. Video ini menjadi viral karena jujur hal ini sangat relate dengan kehidupan kita sehari-hari. Di era pandemi ini, hampir segala hal mau tak mau harus dilakukan secara online demi kebaikan kita bersama. Perubahan yang begitu cepat ini tentunya juga menuntut adaptasi yang sama cepatnya. Hal yang kadang kala sungguh melelahkan.

Sekolah online ternyata memang tak semudah yang kita bayangkan, home schooling not for everyone and its okay. Selama ini, kita terbantu oleh sekolah. Walau sekolah memang bukanlah "bengkel" untuk memperbaiki anak dan orangtua tetaplah pendidik yang utama namun tetap saja harus diakui ketika anak sudah belajar di sekolah,  kita memiliki waktu "ekstra" untuk melakukan pekerjaan rumah atau sekedar memberi waktu untuk diri sendiri. Lalu sekarang support system itu hilang. Mengajar pun ternyata tidak bisa simsalabim anaknya anteng, kadang kala anaknya malas sekolah online, tidak mau divideokan, tidak mau diajarin ibunya, keburu diajak main temannya, keburu ingin nonton TV dan lain-lain. Ditambah saat dirumah kadang jadwal menjadi kurang teratur, makan, mandi, jam tidur, tak bisa seperti dulu lagi. Padahal kadang tugas dari sekolah tidak sedikit: ada hafalan ini, hafalan itu, huhuhu rasanya ingin krukupan sarung aja di pojokan sambil dipeluk Hyun Bin. (Sebuah kemustahilan yang hakiki kan ya?)

Belum lagi jika sebelumnya ibu bekerja di luar rumah, ada waktu untuk bekerja dengan fokus tanpa distraksi hal lain lalu sekarang tiba-tiba ibu harus bekerja di rumah dengan segala distraksinya. Baru mau balas email, anaknya minta susu. Baru mau meeting, ada whatsapp dari bu guru soal tugas anak. Belum lagi misalnya tidak ada asisten rumah tangga, sungguh luar biasa bunda. Aku akui kondisi ini memang tidak mudah. Namun tentu saja, aku tetap memilih keadaan ini dibandingkan resiko anak terpapar corona jika sudah memaksakan masuk sekolah. Meski terkadang burn out, merasa overwhelming, lelah, ingin lari kepantai belok ke gunung tapi yaaa mau gimana lagi kan? toh ibu masih manusia, bisa lelah, dan emosi juga. 

Aku sendiri dalam kondisi ini mengedepankan komunikasi dengan suami. Jujur kalau memang tak sanggup, jujur kalau memang lelah, jujur jika ingin menangis. Banyak hal yang kuturunkan standartnya : ngepel tak lagi setiap hari, nyetrika juga sesekali saja, kalau malas masak ya beli frozen food, minta tolong suami buat bantu pekerjaan rumah, kalau anak nggak mau ngerjain tugas atau nggak mood sekolah online ya sudah.. besok coba lagi. Entah mengapa, aku merasa sehat, waras dan bahagia adalah prioritas saat ini. Nilai bagus? rumah rapi? makanan enak? ah sudahlah, yang penting waras, sehat dan bahagia dulu. Sudah beberapa bulan pandemi ini kita lewati, bisa bertahan sampai sejauh ini pun sudah sangat luar biasa. Tak perlu ditambah dengan drama dan ambisi lagi jika sekiranya hanya akan melelahkan jiwa dan raga.

Tidak apa-apa bu, masa-masa ini akan berakhir. Mari bertahan sedikit lagi demi anak-anak kita. Semangat sekolah online dan menajadi guru, semoga sinyalnya selalu bagus dan moodnya selalu oke ya bu-ibu! Semangat!


Masa nifas


Ketika persalinan sudah berhasil dilalui kini saatnya ibu memasuki babak baru sebagai ibu. Selain peralihan peran yang baru, ibu juga memasuki masa nifas. Sayangnya, terkadang karena sibuk mengurus si kecil yang baru lahir, ibu jadi lupa memperhatikan beberapa hal penting saat masa nifas. Apa saja hal tersebut?

1. Perawatan Luka

Di Indonesia sendiri masih banyak sekali mitos sehubungan dengan perawatan luka ini. Ada mitos yang mengatakan, ibu tidak boleh makan makanan amis, ibu harus cebok dengan sirih, ibu harus duduk dan tidur dengan kaki rapat, dll. Sesungguhnya prinsip perawatan luka perineum maupun luka operasi post SC cukup simple yaitu jaga luka tetap bersih. Untuk luka SC biasanya luka sudah dibebat perban sehingga kebersihannya lebih terjaga, berbeda dengan luka perineum. Biasanya ibu cenderung takut cebok, takut ganti pembalut, takut BAB dan BAK. Sehingga akhirnya kebersihan area perineum pun kurang terjaga, hasil akhirnya : luka menjadi infeksi. Maka sebaiknya jika ibu memiliki luka perineum lakukan hal berikut :

  • Cebok bersih, bersihkan area vagina terlebih dahulu baru area anus.
  • Ganti pembalut setiap 4 jam sekali atau jika terasa penuh.
  • Pastikan tidak ada sisa BAB atau BAK di area perineum.

2. Asupan Nutrisi

Ibu nifas sesungguhnya tidak memiliki pantangan makan apapun, kecuali makanan yang menyebabkan ibu atau bayi mengalami reaksi alergi. Kurang tepat jika ibu hanya mengkonsumsi nasi dan sayur tertentu saja dalam masa nifas. Ibu hendaknya mendapatkan asupan karbohidrat, protein, lemak, mineral (kalsium, yodium, zat besi) dan vitamin. Makanan yang lengkap akan membantu proses pemulihan, menjaga daya tahan tubuh ibu dan membuat ASI yang dihasilkan lebih berkualitas.

3. ASI dan Perawatan Payudara

Sebaiknya perawatan payudara dan segala hal tentang ASI mulai diperhatikan sejak hamil sehingga setelah melahirkan ibu sudah lebih siap. Susui bayi dengan pelekatan yang benar, minimal setiap 2-3 jam sekali hingga payudara kosong. Bersihkan puting dengan air hangat, kompres dengan air hangat dan perah jika teraba bagian yang keras. Segera periksa jika ibu mengalami demam, payudara keras dan terasa nyeri. 

4. Istirahat Cukup

Katanya tidur saat pagi bisa menyebabkan darah putih naik ke kepala, itu MITOS!!! Jika saat malam ibu kurang istirahat sebaiknya sata pagi atau siang ibu istirahat sebentar saat bayi juga tidur. Kelelahan dapat menyebabkan burn out, mood tidak stabil, dsya tahan tubuh menurun, ASI berkurang dan meningkatkan resiko baby blues. Minta bantuan suami jika memang dirasa perlu, ibu tidak sendirian kok!

5. Olahraga

Nah.. banyak banget nih yang ingin segera langsing setelah melahirkan. Sabar ibu-ibu, tubuh kita butuh 9 bulan buat membesar tentu tidak bisa dalam semalam jadi langsing. Emangnya Bandung bandowoso bikin candi? Jadi sabar dulu, nikmati proses penyembuhannya. Setelah itu cek diastasis recti apakah sudah 2 jari atau kurang jaraknya, jika sudah tandanya ibu sudah boleh berolahraga! jika belum ya harap sabar dulu. Mulai dengan olahraga ringan kemudian tingkatkan waktu dan intensitasnya sesuai dengan kemampuan tubuh.


Masa-masa awal menjadi ibu mungkin membutuhkan waktu dan energi yang besar untuk beradptasi, percayalah kita akan bisa melaluinya. Tetap sayangi dan perhatikan kesehatan hati dan diri, karena pada akhirnya kita hanya manusia biasa dan bukan Saras 008 buk!



Dadi wong ki mbok yo sing solutip (Jadi orang yang solutif)


Sudah nonton film Tilik (2018) yang trending belakangan ini? kalau belum silahkan tonton dulu film yang disutradai oleh Wahyu Agung Prasetyo di sini supaya kita nyambung ghibahnya.


Dalam film Tilik tersebut ada tokoh bernama bu Tejo yang belakangan viral, sosok ini banyak dibicarakan karena sifatnya yang relate dengan kehidupan kita sehari-hari. Memang kenyataannya dalam kehidupan kita, ada aja orang yang sifatnya mirip bu Tejo dalam film Tilik. Hobi menghakimi orang lain, hobi ngomongin dan menilai orang padahal info yang dia peroleh sebenernya kurang valid. Saat menonton sosok bu Tejo ini, pastilah terbersit 1-2 orang dalam pikiran kita, wah iya juga ya...


Namun apakah diri kita juga ikut merasa kalau kadang kita menjadi seperti bu Tejo? faktanya iya.


Di jaman sekarang, informasi bisa begitu cepat kita peroleh. Misalnya dari sosial media, status WA atau dari ghibah tetangga. Ada yang memilih usreg ngomongin di belakang, ada juga yang dengan berani nanya langsung ke yang bersangkutan. Kadang yang nanya langsung ini nanti akan ngomongin jawaban orang bersangkutan tersebut (kalau perlu di screencapture) kepada orang lain. Lalu orang lain ngomongin lagi ke temennya, lalu dhuaaar! se Indonesia akhirnya tau. Spill.. spill..spill the tea kalo kata anak twitter. 


Ngomong-ngomong soal tipe bu Tejo, pernah sekali waktu aku ditanya asisten rumah tangga di komplek, " Wah Bu, suaminya kerja di X ya. Kata Bu Melati duitnya banyak lho!" (Bu Melati ini ibu-ibu komplek yang rumahnya jauh dari rumahku dan bukan juragannya ART yang nanya aku). Ya amploooop kenapa orang perlu ngurusin gaji tetangganya ya kan, menurutku agak kurang etis. Apalagi rumahnya jauh dan ngomonginnya sama asisten rumah tangga orang lain. Ada juga orang yang bukan sahabat dekat , nggak ada angin nggak ada hujan bilang begini, " Wah.. udah jadi yutuber duitnya banyak ya?" hmmm.. aku kudu jawab apa selain "Hehehehe.." karena pengen jawab " Bukan urusanmu." nanti dibilang sombong. Lha wong diem aja nggak ngapa-ngapain aja kadang , "Hai kok nggak balas DMku? sombong banget sekarang." Gimana mau balas DM tiap waktu, DMnya nggak cuma kamu aja dan akunya ada kerjaan lain di dunia nyata. (eh aku malah curhat), bu Tejo banget kan? ngatain sombong seenaknya. Contoh lain ya, beberapa hari yang lalu ada sahabatku yang curhat, dibilang kekurusan sama temennya. "Ih kamu kekurusan, kurus banget jadi jelek." begitu kata temannya. Padahal ini sahabatku cuma olahraga aja, bukan diet ketat banget. Itu yang ngomong gitu nggak tau detailnya aja ya kok ya tega ngatain jelek begitu. Sungguh bu Tejo sekali.


Jadi sesungguhnya bu Tejo ada dimana-mana, bukan semata ibu-ibu ghibah di bak truk. Bu Tejo nyatanya kadang ada di dalam diri kita. Nggak percaya? pernah nggak kamu ngomentarin orang atau artis, hanya dari sekilas apa yang kamu lihat? cuma ketemu sekali dua kali, atau lihat storynya tiap hari kamu sudah merasa kenal 100%.


 " Ealaaah.. kok ibu itu nggak ASI to? kasian anaknya yo." 

" Tau nggak si X itu lahirannya SC, aku udah nebak. Keliatan sih kalau dia manja."

" Ony tuh ngebet banget terkenal ya? pakai minta subscribe dan share segala."

" Mesti Bu X itu utang bank deh, mosok mobile udah baru lagi."

"Ngapain sih si artis itu share foto begitu sama pacarnya? emang sih dia itu keliatan kalau cewek nggak bener."

"Enak ya jadi nakes di era pandemi, duit tunjangannya banyak, ratusan juta."

"Tau temen kita si A nggak? itu lho yang dulu pinter sendiri. Sekarang nggak kerja lho, pasti karena nggak boleh sama suaminya. Sayang ya ilmunya."

" Selebgram yang itu kok piknik terus ya, mesti nyambi nih. Cantik sih, pantas jadi simpenan."


Sadar atau tidak kadang kita seperti itu, entah mengomentari teman, sahabat, artis, tetangga, saudara, dll. Kadang dari sekelumit info yang ada, kita lantas mengembangkannya dengan imajinasi tertinggi sehingga seolah semua itu benar, seolah itu fakta. Ghibah memang seru dan asik, apalagi ngomongin orang yang kurang kita sukai, wuiiiih gurih. Belum lagi di sosial media kita bisa bebas menggerakan jempol kita sambil bersembunyi di balik akun palsu. Coba sesekali tengok komentar di instagram kekeyi, hampir semua "bu Tejo" komen disitu. 


Ego kita ini  memang kadang memaksa kita untuk menjadi yang paling update, paling baik dan paling benar, pokoknya lainnya numpang. Walau sama juga seperti bu Tejo yang marah ketika suaminya dirasani, ketika ada orang lain yang ngomongin kita atau keluarga kita rasanya kita langsung tidak terima dan ingin klarifikasi kalau itu salah! Rasanya juga gatel ingin berkomentar jika ada yang pendapatanya berbeda dengan kita, metodenya berbeda dengan kita, pokoknya semua orang harus sama dengan kita. Rasanya kadang iri kalau ada yang lebih sukses, lebih cantik daripada kita : "Ah pasti oplasan tuh.." padahal walau seandainya oplas pun bukan urusan kita kan, wong duit-duit dia sendiri. 


Aku sendiri menyadari kadang kala masih sering menjadi bu Tejo, masih mudah menjudge, masih memiliki hasrat untuk mencampuri urusan orang lain, masih sering ngomongin orang. Menonton film Tilik tidak hanya membuatku tertawa karena pada kenyataannya memang gosip dan ngomongin orang sangat lekat dalam kehidupan kita sehari-hari, namun film ini seperti menjadi sebuah cermin : 

"Apakah kita masih sering menjadi Bu Tejo? Sampai kapan kita akan terus menjadi Bu Tejo? Perlukah kita mulai belajar untuk lebih menjaga hati dan perkataan kita supaya tidak menyakiti hati orang lain? Seberapa sering kita mengecek info yang ada sebelum akhirnya membagi info tersebut dengan orang lain?"

Bagiku, film Tilik bukan sekedar film hore-hore ibu-ibu yang hendak menengok bu Lurah. Film Tilik ini memiliki banyak pesan moral, bahkan bagiku bisa menjadi salah satu cara untuk melihat refleksi diri kita. 


Kamu sendiri sudah belajar apa dari film ini? apa cuma ngetawain bu Tejo tanpa belajar melihat "bu tejo" dalam diri kita? Dadi wong ki mbok yo sing solutip....