Cerita Tentang ASI Keira Part 5 (Drama Menyapih)

Susu kotak ftw!

Ternyata aku malah kelupaan belum cerita tentang masa-masa menyapih Keira. Padahal itu udah luama buanget, sejak anaknya belum jalan sampai sekarang anaknya udah bisa naik sepeda. Keira itu aku sapih waktu umur 11 bulan, iya akutu nggak kayak bunda yang nyapih anaknya diatas 2 tahun. Apalah akutu dibanding bunda yang sungguh ideal dan panutan ibu muda jaman sekarang :(

Etapi dengerin cerita aku dulu ya bunda, aku juga pengen banget bisa ngasih Keira ASI sampai 2 tahun full cuma sayangnya waktu itu nggak bisa. Jadi ceritanya waktu Keira usia 10 bulan, aku kena cacar air. Karena takut Keira ketularan, selama dua minggu itu aku nggak nyusuin Keira, nggak ketemu Keira meski aku ya di rumah aja. Rasanya kayak LDRan, bisa mendengar suaranya nggak bisa memeluknya. Galau aku jadinyaaaa~ Asupan ASI Keira ditahap ini masih tercukupi karena Puji Tuhan tabungan ASIku banyak banget, ASIku juga nggak bampet karena walau mengisolasi diri tapi aku tetap disiplin pumping tiap 3 jam sekali (walau ASInya dibuang). Ketika aku sembuh, aku balik nyusuin Keira lagi karena Keira cuma minum ASI Perah pas aku kerja, sedang kalau aku di rumah Keira menyusu langsung (Direct Breastfeeding). Drama pun dimulai, ternyata Keira jadi super posesif sama payudara ibunya. Mungkin karena dua minggu nggak netek kali ya, dia maunya cuma netek terus. Yang jadi masalah adalah ketika aku kerja dia jadi nggak mau minum ASI Perah, entah itu ditaruh botol, disendokin, atau dengan gelas. Pokoknya nggak mau! Maunya netek! Lama-lama aku perhatiin urine Keira jadi pekat, aduh mak aku jadi takut Keira dehidrasi. Akhirnya diputuskan Keira disapih, supaya dia move on beneran, nggak posesif dan yang paling penting mau minum lagi sehingga nggak dehidrasi

Apakah aku pernah dijudge? Oh sering bunda, apalagi kerjaanku motivasi orang buat ngasih ASI ke anaknya. Tapi justru karena aku nggak bisa kasih ASI selama 2 tahun, aku pengen yang lain bisa ngasih ASI buat anaknya sampai 2 tahun. Selain itu alasanku nyapih Keira juga supaya dia nggak dehidrasi, bukan karena akunya yang nggak pengen nyusuin Keira lagi. Makanya aku sih cuek mau dijudge yang kayak apa, because you dont know the truth. Gitu.

Aku sendiri memutuskan untuk menyapih tanpa dusta, semacam versi simple dari menyapih dengan cinta. Menyapih dengan cinta konon mempunyai banyak sekali sisi positif baik untuk ibu maupun untuk si anak, nah aku sendiri sebenernya alasanku menyapih dengan cinta cuma karena aku nggak mau bohong sama Keira. Iya, aku tuh pengen Keira tumbuh jadi anak yang jujur, terbuka dan percaya sama orangtuanya, nah maka dari itu aku berusaha ngasih contoh buat nggak bohong sama Keira dalam hal apapun. Ya gimana anak mau percaya sama orang tuanya ya kan, kalo kita aja suka bohong sama dia.

Proses penyapihan tentu pakai drama. Waktu itu aku bilang sama Keira, "Keira udah nggak usah minum ASI ya karena udah mau besar, Keira minum susu di botol aja ya." Trus dia sempat semalaman nangis, dan aku juga nangis dong di dalam kamar. Rasanya nyapih itu lebih sedih dibanding ditinggal gebetan deh, sungguh. Nah kali ini aku  mau sharing beberapa tips yang mungkin bisa berguna kalau ibu-ibu mau nyapih buah hatinya, oke here we go.

1. Jujur
Seperti yang aku bilang tadi, mengesampingkan semua keuntungan positif dan menyapih dengan cinta pada akhirnya kalau ingin punya anak yang jujur dan percaya pada orang tuanya ya kita harus jadi contoh buat si anak. Kasih obat pait di payudara, obat merah, itu sama aja bohong sama anak kita. Sama seperti kita yang suka jadi krisis kepercayaan kalo udah pernah dibohongi, anak juga begitu. Gimana dia mau percaya sama kita kalau kitanya aja suka bohong? Gimana dia mau jadi anak yang jujur kalau kitanya juga nggak kasih contoh? Sekarang mungkin belum terlalu menimbulkan masalah ya, tapi kelak ketika dia udah dewasa gimana kalau dia lebih memilih percaya teman-temannya dibanding kita? Padahal temannya bisa jadi malah lebih pembohong daripada kita.

Awal nyapih aku bilang karena Keira udah mau besar jadi minum susu di botol aja, apalagi kalau ibu baru kerja. Setelah sukses nyapih aku bilang, ASI di payudara udah habis (bilang sambil dipencet dong) dan sampai sekarang dia udah paham kalau ASInya ibu memang sudah habis beneran. Sudah nggak ada.

2. Konsisten
Tau nggak? Menyapih itu ternyata sakitnya kayak patah hati. Ada perasaan nggak rela, perasaan "kok waktu cepet amat berlalu", ada perasaan takut si anak nggak butuh kita lagi, ada yang 'hilang' dari hati. Setauku menyapih dengan cinta metodenya menyapih dengan perlahan : nggak nawarin ASI tapi juga nggak nolak kalau anaknya mau minta ASI. Jadi ketika si anak minta ASI, ibu yang memakai metode Weaning With Love (WWL) sebaiknya mengalihkan perhatian si anak, dengan kasih minuman lain, baca buku cerita, makanan, aktivitas lainnya, tapi jika gagal dan si anak tetap minta ya dikasih lagi. Cuma ingat tetap harus konsisten dihari esok, kalo si anak nggak minta ya jangan ditawari, kalo minta ya alihkan perhatiannya. Jangan karena si anak rewel, kita lalu nawarin ASI.

Nah kalo aku ternyata nggak bisa pakai metode yang itu, karena keira terlanjur super protektif. Ngasih ketika dia minta malah jatuhnya jadi kayak PHP, putus - dia ngajak balikan- balikan- putus lagi gitu terus sampai akhirnya dia nggak mau diputus. Jadi konsisten versiku adalah dengan sama sekali nggak meneteki Keira secara langsung, dia cuma minum ASIP aja. Kebetulan dia udah biasa minum ASIP ketika aku kerja, jadi prosesnya lebih smooth.  Tapi selalu ingat, metodeku ini nggak bisa diterapkan ke semua anak ya, karena tiap anak beda-beda.

3. Sabar
Ketika disapih si anak biasanya akan rewel, caper, manja, yaaaa kayak kita pas dulu diputus pas lagi sayang-sayangnya itu lho. Nah sebagai orang tua kita harus panjangin sabar kalau ngadepin anak yang begini. Ingat dia baru 'kehilangan' sumber kenyamanannya, jadi ya wajar kalau dia begitu. Sebisa mungkin kurangi ngomel, bentak, dan marah-marah. Limpahi anak dengan kasih sayang yang lebih dari biasa, curahkan perhatian penuh supaya dia merasa meski dia udah nggak netek lagi tapi kasih sayang kita tetap sama. Tenang bunda, proses caper dan galau si anak nggak akan lama kok, seiring berjalannya waktu dia akan move on juga.

4. Kerja sama dengan Partner
Sebelum menyapih bicarakan dulu hal ini dengan suami, dengan pengasuh anak yang lain (mbak, mertua, ibu) sehingga mereka tahu kalau si anak baru disapih. Tujuannya selain supaya mereka memberi suport ke kita dan menguatkan kita supaya tetap konsisten, juga supaya mereka bersikap lebih sabar kepada anak dan membantu mengalihkan perhatian si anak. Berdasar pengalaman, support system yang baik akan mempermudah proses penyapihan si anak.

5. Sapih ketika si anak dalam kondisi sehat
Ya namanya waktu disapih si anak pasti rewel, susah makan, nggak mau minum, nggak dapet ASI, jadi usahakan waktu menyapih si anak sedang dal kondisi prima. Jika menyapih dilakukan saat si anak sedang sakit, dia akan merasa lebih nggak nyaman, dan mungkin saja sakitnya jadi lebih terasa sakit, atau rewelnya jadi dobel-dobel.

Nah apapun metode yang digunakan untuk menyapih anak dan kapanpun waktu yang dipilih untuk menyapih anak (usia 6 bulan, setahun, dua tahun, tiga tahun) yang terpenting adalah si ibu juga ikhlas. Ikhlas ' melepaskan ' anaknya dan memahami bahwa ini memang adalah salah satu proses tumbuh kembang anak yang harus dilalui. Percayalah kita tetap bisa menjadi ibu yang baik walau sudah tidak menyusui lagi. Bagi yang masih menyusui dan kebetulan membaca tulisan ini, nikmatilah masa menyusui dengan segala tantangan suka dukanya karena suatu hari nanti masa-masa itu akan kita rindukan.

Silahkan share di komen tentang proses menyapih bagi yang sudah sukses, siapa tahu bisa jadi masukan dan dukungan semangat buat ibu-ibu yang lain ya!

With love,
Ibuk Keira. 

0 komentar:

Post a Comment

Feel free to ask anything, leave your comment. No SARA please :)