Duka di Matanya

Dia

Pindahan adalah hal yang tidak selalu menyenangkan bagi sebagian orang. Meski pindahan kadang akan membuat kita memiliki pengalaman baru, mengenal lingkungan baru, memiliki teman dan keluarga baru namun kadangkala proses adaptasi yang sulit membuat pindahan terasa menyiksa. Untung aku adalah tipe orang yang cukup mudah beradaptasi, mungkin karena dulu aku juga sering berpindah-pindah jadi sekarang aku tidak terlalu sulit beradaptasi di tempat baru. Sayangnya karena sudah merasa mampu beradaptasi dengan baik aku lupa kalau mungkin Keira belum semahir aku dalam soal adaptasi ini.

Berbeda dengan ibunya yang super cerewet dan nggak masalah memulai pembicaraan dengan orang asing, Keira cenderung tertutup terhadap orang baru. Dia lebih suka diam, mengamati dari jauh lalu nanti membahasnya ketika kami hanya berdua saja. Dulu sewaktu tinggal di Jogja Keira pun hanya diam saja jika bertemu dengan teman-teman barunya atau semisal aku ajak playdate dengan teman-temanku yang anaknya sebaya dengan Keira, hanya saja karena aku punya adik yang masih kecil Keira jadi punya teman bermain di rumah. 

Awal bulan Januari ini aku dan Keira kembali berpindah tempat karena ayah Keira pindah tugas. Jika sebelumnya kami ikut Ayah Keira di NTT kali ini kami ikut ke Banten. Berbeda dengan kepindahan kami ke NTT yang berjalan smooth karena segala sesuatunya sudah beres (berhubung ayah Keira sudah tinggal duluan di sana selama 5 tahun dan kami cuma 3 bulan disana), kepindahan kami di Banten ini cukup ribet karena semuanya berawal dari nol. Harus cari rumah untuk dtinggali, cari perabotan, bebersih rumah, bongkarin barang, dan tentunya sama-sama belajar beradaptasi dengan lingkungan. Seminggu, dua minggu berjalan, aku dan suami merasa asik-asik aja dengan lingkungan yang baru namun aku menyadari jika akhir-akhir ini Keira lebih sering marah, tantrum, cari perhatian dan mudah menangis.

Kenapa ya?

Si Ibu mulai kepo, berhubung rumah juga sudah 80% beres aku jadi lebih bisa memperhatikan tingkah, ekspresi, cerita Keira dengan baik. Suatu hari aku memperhatikan Keira yang menatap dalam-dalam beberapa anak kompleks yang sedang bermain, dia memintaku untuk menemaninya bermain bersama mereka. Oke, akupun mengantarnya bermain bersama anak-anak yang lain. Namun, sama seperti Keira yang malu-malu terhadap mereka, mereka pun juga malu-malu terhadap Keira. Ketika Keira mendekat, mereka tetap asyik bermain, sesekali berlari berkejar-kejaran, dan Keira hanya diam lalu menatap ibunya lalu berkata, " Ibu, ayo pulang." Di rumah, dia akan mengintip temannya dari jendela rumah lalu sorenya dia akan merengek minta mandi dan naik sepeda keliling kompleks supaya bisa bertemu dengan teman-temannya. "Ayo Bu, cari teman-teman." Walau faktanya, ketika bertemu dengan anak-anak yang lain Keira akan tetap diam dan hanya menatap dari jauh. Malamnya sebelum tidur Keira akan membahas nama teman-teman yang belum juga berani dia sapa, kadang Keira juga mengulang cerita tentang bagaimana dulu dia bermain dengan adikku. Saat itulah aku menyadari : Keira merasa kesepian. 

Aku menangis.

Merasa bersalah mengapa sejak awal aku tidak menyadari bahwa proses adaptasi yang kuanggap begitu mudah dan menyenangkan ini begitu sulit bagi Keira. Sementara aku sibuk berbenah dan membersihkan debu rumah, sibuk menulis artikel dan tulisan untuk blog ini, sibuk membaca, sibuk mengolah data, tanpa banyak waktu memperhatikan Keira, anak itu merindukan teman-temannya. Tanpa kusadari, anakku merasa sendirian.

Aku pun mulai mengajak Keira dan teman-temannya bermain. Aku sesekali ikut mengejar anak-anak komplek, ikut bermain lego, ikut bermain boneka, memanggil nama-nama mereka setiap melihat mereka bermain sepeda kala sore hari dan mengajak mereka bercerita. Mungkin Keira masih malu atau merasa tidak aman dengan lingkungan asing yang belum ia kenal, mungkin dia akan lebih nyaman jika melihat ibunya ikut bermain dan berinteraksi dengan teman-teman barunya. Seminggu berselang beberapa anak sudah mau main ke rumah, saat sore hari ketika kami bermain sepeda beberapa anak sudah mau berlari dan memanggil "Keira... Keira... ayo main ke rumahku!" dan wajah Keira nampak sumringah, senyum kembali tersungging di wajahnya. Keira akhirnya sudah berani bermain dengan teman barunya, meski masih malu, meski masih lirih saat memanggil nama mereka namun setidaknya sekarang dia selalu tersenyum saat berkata, "Ayo Bu main sama teman-teman."

Kepindahan kami kali ini membuatku menyadari kalau kadang kita tidak benar-benar ada untuk anak kita. Mungkin kita terlalu sibuk bekerja, terlalu sibuk berselancar di dunia maya, bermain sosial media, chatting dengan tetangga atau teman lama, mungkin kita terlalu sibuk dengan diri kita sendiri, dengan segala goals kehidupan yang kita punya, tak apa karena kita semua hanya manusia biasa yang memang sesekali butuh bersosialisasi dan aktualisasi diri. Namun, alangkah lebih baik jika sekali waktu pada hari-hari tertentu kita berhenti sejenak dari semuanya itu, melepaskan diri kita yang biasanya untuk sesekali menggulung celana panjang kita dan bermain bola dengan anak kita, meletakkan gadget kita dan mendengarkan anak kita bercerita sambil bermain boneka, menggandeng tangan mereka dan mengajak mereka bercanda, mungkin sesekali waktu kita perlu berhenti dari kesibukan kita dan memeluk anak kita. Ingat, akan tiba hari dimana kita duduk di depan pintu dengan penuh rasa rindu, menunggu-nunggu hari kepulangan mereka tiba. Akan tiba masanya kita tak lagi mendapat kabar apapun dari mereka karena mereka terlalu sibuk dengan kehidupan mereka. Sebelum masa itu tiba, mari luangkan waktu untuk anak kita.



0 komentar:

Post a Comment

Feel free to ask anything, leave your comment. No SARA please :)