Pentingnya Aktualisasi Diri

Kalo suka foto, aktualisasi diri bukan ya?

Sebelum memutuskan cuti panjang yang berujung resign, aku sudah cukup lama menimbang dan memperdebatkan hal-hal apa saja yang mungkin menjadi konsekuensi jika aku resign atau jika aku memutuskan terus bekerja. Dan meski hal ini sudah menjadi pemikiran selama setengah tahun lebih tetap saja ketika pilihan itu ada di depan mata rasanya sungguh luar biasa. Ini bukan perkara omongan orang karena untungnya aku sudah belajar untuk cuek, yeah people will always found a way to judge by the way. Mau kerja ya dikomen, nggak kerja ya dikomen. Terserah.

Yang aku bahas dan perdebatkan sebenarnya lebih kepada adaptasi dan apa yang akan aku kerjakan pasca resign jika seandainya aku tidak bisa bekerja lagi. Suamiku kerap bertanya kenapa aku begitu suka bekerja, dan ternyata setelah aku renungkan lagi alasan utama aku bekerja memang bukan soal uang. Aku bekerja karena aku memang suka menjadi bidan. Aku suka bertemu ibu-ibu baru, berkenalan dengan orang baru, membagi ilmuku, belajar dan bertumbuh bersama, aku senang ketika orang merasa terbantu dengan kehadiranku, aku senang menjadi berkat bagi orang lain. Hal inilah yang membuatku bertahan cukup lama dalam pekerjaan ini. 

Aku masih ingat ditengah kegalauanku saat itu seorang sahabat berkata, "Mau bagaimanapun, keluargamu adalah yang utama. Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisimu di dalam keluarga, tapi banyak yang akan menggantikanmu di sini. Pergilah, meski aku juga berat melepasmu." *Bentar, aku nangis dulu*. Kalimat itu terus terngiang tapi rupanya belum cukup membuatku dengan ringan melangkahkan kaki jadi akhirnya aku pun meminta nasihat pada orang yang sudah aku anggap Ibu sendiri, saat itu beliau berkata, "Nggak masalah kok Kamu mau dimana aja, yang terpenting Kamu bisa menjadi tangan panjang Tuhan di manapun itu." Okay, kali ini aku mantap melangkahkan kaki.

Masalahnya, aku sangat mudah bosan. Jauh-jauh hari sebelum cuti aku sudah menyusun banyak rencana supaya aku tidak terlalu bosan seperti belajar bahasa spanyol, merajut, blogging, tradding, mengerjakan beberapa tulisan review, dan banyak lagi. Tapi kenyataannya, di minggu-minggu pertama aku di Sumba aku tetap bosan. Ada rasa putus asa, tidak berguna, bosan, malas, sedih dan bad mood. Untungnya suamiku super sabar walau sering ku omelin tanpa sebab. Nah saat itu aku mulai menggali-nggali kenapa sebenarnya aku merasakan perasaan seperti itu, dan jawabannya ternyata ada pada Piramida Hirarki Kebutuhan Maslow. 

Menurut Piramida Hirarki Kebutuhan Maslow, Kebutuhan manusia terdiri atas : Kebutuhan fisiologis atau dasar (sandang, pangan, papan), Kebutuhan akan rasa aman, Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi, Kebutuhan untuk dihargai dan Kebutuhan untuk Aktualisasi Diri. Menurut Maslow, kebutuhan-kebutuhan ini wajib terpenuhi semua namun nyatanya kebutuhan untuk dihargai dan aktualisasi diri tidak terpenuhi benar saat itu makanya aku galau sepanjang hayat. Ini bukan berarti suami dan anak nggak menghargai aku ya, tapi kebutuhan untuk dihargai ini cakupannya luas. Ada dua macam kebutuhan untuk dihargai, yang pertama kebutuhan akan kekuatan, penguasaan, kompetensi, percaya diri dan kemandirian. Yang kedua, kebutuhan akan penghargaan dari orang lain, status, ketenaran, dominasi, kebanggaan, dianggap penting dan apresisasi dari orang lain. Nah gimana nggak galau kan aku, biasanya banyak yang mengapresiasi kerjaanku, banyak yang suka nyapa "Halo, bu Ony" nah tiba-tiba aku ada di Sumba yang nggak kenal siapa-siapa dan cuma ada suami sama anak aja. Kayak jomplang gitu lho.

Aktualisasi Diri dan Kebutuhan akan harga diri ini saling berkesinambungan. Kebutuhan Aktualisasi Diri ini terdiri dari 17 meta kebutuhan yang saling mengisi yaitu : Kebenaran, Kebaikan, Keindahan/Kecantikan, Kesatuan, Transtendensi, Berkehidupan, Keunikan, Kesempurnaan, Keniscayaan, Penyelesaian, Keadilan, Keteraturan, Kesederhanaan, Kekayaan, Santai, Bermain, dan Mencukupi diri sendiri. Nah jika beberapa kebutuhan tidak terpenuhi maka akan terjadi meta patologi seperti, Apatisme, kebosanan, Putus asa, tidak punya rasa humor lagi, keterasingan, mementingkan diri sendiri dan Kehilangan selera.

Aku langsung menyadari memang ada beberapa kebutuhan yang belum terpenuhi karena perubahan status dari bekerja menjadi tidak bekerja yang pada akhirnya membuat perasaanku gundah gulana tak menentu. Aku pun berjanji untuk berusaha memenuhi kebutuhan ini dengan cara yang positif, mulai mendiskusikan hal ini dengan suami dan akhirnya ketika perlahan-lahan kebutuhan itu mulai terpenuhi hati ini pun mulai merasa bahagia lagi. Salah satu hal yang aku lakukan adalah dengan kembali menulis, itulah mengapa blog ini kini memiliki alamat domain baru dan memposting tulisan baru setiap hari senin pagi. Yeah, blog ini adalah salah satu sarana aktualisasi diriku.

Kenapa kebutuhan ini menjadi penting? Yah karena jika tidak terpenuhi kita tidak akan merasa nyaman. Kemungkinan lain, secara tidak sadar kita bisa melakukan hal negatif untuk memenuhi kebutuhan ini. Seperti apa contohnya? mungkin kalian pernah membaca komentar super julid bin jahat di akun sosial media ayu ting-ting, Jokowi, atau  Andien. Mungkin kalian tahu orang-orang yang menciptakan gimmick dan drama seperti awkarin atau Ratna Sarumpaet, mungkin kalian tahu betapa orang sering berdebat soal Ibu Bekerja vs Ibu Rumah Tangga, ASI vs Sufor, BLW vs Makan disuapin dan banyak lagi, mungkin kalian sudah mendengar ada yang rela berhutang sana sini demi feed instagram yang bak Crazy Rich padahal aslinya enggak,  atau sesimple kalian mendengar orang lain membanding-bandingkan hidup mereka dengan hidup kita dan merasa hidup merekalah yang maha sempurna. Yak, itu adalah contoh-contoh aktualisasi diri yang menurutku sih, cenderung negatif. 

Dan aku pernah ada di titik itu. Ikut komen julid di akun Lambe-lambean karena merasa hidupku lebih baik lah dibanding si ayu ting ting dan raffi ahmad, membandingkan hidup dengan yang lain karena merasa hidupku so much better. Sampai pada suatu ketika, ada yang tiba-tiba merasa tersinggung dengan salah satu tulisanku. Dia benar-benar merasa aku menyindirnya habis-habisan, bahkan dia dan teman-temannya membuat kalimat-kalimat yang super nyakitin yang intinya sih ya aku super jelek dan mereka yang terbaik. Padahal sumpah mati, aku tidak ada tendensi apa-apa saat membuat tulisan itu, jangankan  mau menyindir hidupnya kenal akrab dengannya untuk tahu tentang hidupnya pun tidak. Saat itu aku menyadari, bahasa tulisku mungkin memang terlalu "keras"  dan terlalu berpusat pada diriku sehingga ada beberapa pihak yang merasa tersindir walau sebenarnya tidak. Mungkin aku terlalu ingin mendapat penghargaan dari orang-orang, aku mungkin terlalu nafsu ingin memenuhi kebutuhan aktualisasi diriku hingga tak memperhatikan orang lain.  Di sisi lain aku juga menyadari mungkin ini juga adalah cara dia dan teman-temannya untuk "mengaktualisasikan diri" sehingga tanpa sadar mereka merasa segalanya adalah tentang mereka. Melalu perenungan, aku menyadari bahwa mungkin caraku dan cara mereka ini tidak begitu tepat. Setelah merenung beberapa hari aku langsung meminta maaf dan berusaha menjelaskan kesalah pahaman ini kepada mereka, yang sayangnya hingga hari ini tak juga mendapat balasan seperti yang aku harapkan. Mereka sepertinya belum memaafkan :(.

Pengalaman yang menyedihkan ini membuatku belajar kalau kadang kita secara nggak sadar menyakiti orang lain dalam proses memenuhi kebutuhan hidup kita. Demi mendapat pengakuan kalau kita ibu yang maha sempurna kita lantas dengan semena-mena menjudge dan membully mereka yang di mata kita kurang benar tanpa memikirkan perasaan mereka. Demi mendapat pengkuan kalau kita adalah yang tercantik, terkaya, terhebat, terbenar, kita lantas menggunakan segala cara yang diantaranya mungkin dengan menjatuhkan nama baik orang lain. Pengalaman menyedihkan itu membuatku sadar bahwa piramida maslow memang sebaiknya dipenuhi dengan cara-cara yang baik tanpa merugikan pihak manapun.

Di bulan Desember ini ketika kita bersama-sama memperingati hari Ibu alangkah baiknya jika kita sejenak melepas ego kita dan bergandengan tangan. Sebagai sesama wanita dan sesama ibu alangkah baiknya jika kita berhenti mengkompetisikan anak siapa yang paling gendut, pilihan hidup siapa yang paling benar, masakan siapa yang paling sehat. Alangkah baiknya jika kita bergandeng tangan, merangkul mereka yang membutuhkan - dan bukannya membully- , alangkah baiknya jika kita mulai belajar menghargai mereka yang mungkin memiliki pilihan hidup yang berbeda dengan kita, alangkah indahnya jika kita belajar mengaktualisasikan diri kita dengan cara menjadi saluran berkat bagi yang lain dan menjadi tangan panjang Tuhan di manapun kita berada.

Di hari Ibu ini, marilah kita jujur pada diri sendiri. Bertanya kepada diri sendiri apakah kita memang sudah adil kepada diri kita dengan memenuhi semua kebutuhan diri dengan baik? Jika belum, masih ada waktu untuk berbenah dan belajar karena sejatinya hidup adalah suatu proses pembelajaran. Karena kita berhak bahagia begitupun orang lain.

Selamat hari Ibu! Mari mengaktualisasikan diri secara positif!

NB : Tulisan ini dibuat sebagai pembelajaran bersama tanpa bermaksud menyindir pihak-pihak tertentu. Salam damai.

2 comments:

Feel free to ask anything, leave your comment. No SARA please :)