Wedding Checklist (that almost forgotten)



Jadi.. kamu lagi nyiapin pernikahan?
Atau udah nikah tapi iseng kesasar baca blog ini?
Atau malah lagi cari cara buat modusin pacar biar pacarnya terus nglamar?
Atau.. lagi berdoa biar jodohnya segera datang?


Apapun alasanmu jangan berharap kamu akan menemukan check list yang berisi daftar persiapan pesta pernikahan, karena bukan itu yang ada di sini. Banyak pasangan yang sibuk menyiapkan pesta pernikahan, survey beraneka macam vendor, belanja beraneka pernak-pernik, merencanakan honey moon, dst (ya termasuk aku sih) tapi lupa mempersiapkan kehidupan setelah menikah. Aku baru sadar ketika dapet kado buku Menuju Pernikahan yang Sehat dan Solid dari seniorku di tempat kerja, oh.. ternyata banyak ya yang harus dipikirin kalau mau menikah. Segala sesuatu memang selalu lebih baik jika direncanakan, ibaratnya kita punya bekal untuk menghadapi apapun yang menanti kita di depan sana, nggak buta sama sekali.
Soalnya siapa bilang menikah itu gampang? Dari hasil memperhatikan, kepo, dan mengamati kisah pernikahan orang di sekitarku, pernikahan itu membutuhkan lebih dari sekedar cinta. Pernikahan membutuhkan komitmen dan banyak hal lain. Jadi agar pernikahan kita kelak bisa lebih bertahan menghadapi badai hidup, beberapa hal ini sebaiknya mulai diperhatikan sejak sekarang ;

1. Apakah Kita siap berkomitmen seumur hidup?


Ketika kita menikah, kita tidak hanya memilih teman hidup, tapi juga memilih teman curhat, teman traveling, partner makan, partner membesarkan anak,dst. Ingat orang yang kita pilih akan kita lihat hampir setiap waktu sampai ajal menjemput, bagaimana pernikahan kita bisa langgeng kalau lihat wajah suami aja udah males?bagaimana mau langgeng kalau denger suaranya aja kayak mau kabur? 

Nah karena itu pertama-tama tanyakan dulu pada hati kita masing-masing, apa sih sebenernya alasan kita menikah? Apakah karena semua temen udah menikah -terus jadi malu kalo ditanya di kondangan -kamu kapan-? Apakah karena jam biologis yang terus berdetak?umur yang makin tua? Apakah karena dengan menikah kita nggak akan lagi merasa kesepian? Apa karena dipaksa orang tua? Apakah karena butuh perlindungan financial? Apapun alasannya kita harus tahu benar apa alasan kita menikah, juga alasan pasangan kita. Tujuan penilaian ini adalah untuk membantu kita memperoleh pemahaman yang lebih baik akan seseorang yang kita pilih untuk menjadi pasangan hidup kita. Jangan-jangan kita pengen nikah karena kita mencintai pasangan kita dan ingin menghabiskan sisa waktu dengannya tapi tujuan pasangan kita menikah adalah supaya ada yang nemenin makan, kan nggak nyambung ntar.

Mengevaluasi alasan untuk menikah hanyalah salah satu aspek yang menentukan apakah kita sudah siap berkomitmen atau belum. Faktanya kadang kita menyukai orang yang memberi kesan palsu. Cobalah sejenak mengamati pasangan pilihan kita, amati sinyal peringatan yang ada, percayai hati nurani, jika ternyata kita dan pasangan kita tidak saling mengenal dengan baik, punya kebiasaan buruk yang tidak bisa ditoleransi, tidak dewasa, tidak bertanggung jawab secara keuangan, pasangan suka melecehkan (verbal,seksual,fisik,emosial dan rohani), Iman kepercayaan kalian tidak seimbang, pasangan yang memiliki kecanduan (pornografi, narkoba, miras, judi, game) dan egois maka sebaiknya evaluasi kembali keputusan menikah yang sudah dibuat. Ingat pernikahan itu untuk seumur hidup, jangan sampai kita baru tau belakangan kalau orang yang kita nikahin ternyata psikopat. *dilempar bom*

2. Apa yang seharusnya diharapkan dalam pernikahan? 


Tau kan kalo ngarep yang terlalu tinggi nanti kalo jatuh makin sakit?? 
Nah, kita semua pasti memiliki berbagai harapan untuk pernikahan. Harapan ini timbul dari pengalaman masa lalu, kondisi sekarang bahkan impian serta tujuan masa depan. Mengetahui bagaimana harapan tersebut penting demi kesejahteraan pernikahan kita kelak. Bahkan kalau perlu tentukanlah visi pernikahan kita, dengan adanya visi kita dan pasangan bisa membuat rencana untuk mewujudkan misi tersebut. Emangnya instansi atau perusahaan doang yang boleh punya visi??

Yang perlu diingat adalah, ngarep boleh, punya harapan boleh, tapi sebaiknya yang realistis. Karna kalo ngarep yang nggak realistis ntar pas nggak terkabul jatohnya sakit loh dihati. Misalnya nih, berharap pernikahan akan memecahkan sebagian besar masalah kita, imho itu nggak realistis. Tapi kalau berharapnya cuma punya keluarga kecil bahagia dengan dua anak, itu masih realistis. Memahami harapan satu sama lain akan membuat pernikahan menjadi lebih kuat, jadi mulai sekarang coba deh bahas harapan-harapan bersama pasangan. Sebab kelak dialah partner kita mewujudkan harapan itu. #Eaaaa

3. Sudah siapkah menerima dan memahami perbedaan yang ada?


Perbedaan nggak selalu buruk kok, apalagi kalo kita bisa menyelaraskannya. Perbedaan justru akan melengkapi dan memperkaya kita. Udah jelas banget kalo kita dan pasangan kita berbeda, gendernya aja udah beda ya kan? 

Perbedaan yang lain banyak, latar belakang pendidikan, perbedaan pola asuh keluarga, perbedaan karakter dan buanyak lagi perbedaan yang lain. Maka dari itu mulai dari sekarang amati perbedaan yang ada, bicarakan perbedaan yang ada dengan pasangan bisakah diterima? Bisakah dicari jalan tengah?
Sometimes perbedaan sepele bisa bikin masalah, kayak misalnya yang laki demen tidur dini hari sementara yang cewek nggak bisa melek malem. Nah loh itu bisa bikin masalah loh kelak, yang satu udah pengen dikeloni yang satu belom pengen ngelonin. Disisi lain perbedaan bisa memperkaya diri kita, misalnya nih kita biasa masak nasi goreng telornya diceplok, eh pasangan kita biasanya bikin nasi goreng telurnya diaduk ama nasinya, mungkin kita jadi bisa nyoba nasi goreng ala pasangan atau malah bikin nasi goreng dengan cara baru. Terus bersama sama bikin warung nasi goreng.

But, memahami perbedaan itu nggak gampang. Kita harus mau berendah hati, membuang ego kita jauh-jauh dan siap belajar hal baru. Kenapa? Sebab manusia cenderung menganggap dirinya yang paling benar, dan pas orang lain nggak sesuai dengan keinginan kita, kitanya ngambek. Padahal kebenaran sejati itu kan hanya milik Tuhan. Setujuuu??

4.Bagaimana cara kita mengungkapkan cinta?

Komunikasi adalah sumber kehidupan dalam setiap hubungan. Dengan komunikasi kita menginformasikan menjelaskan mempengaruhi dan membangun keintiman satu sama lain. Komunikasi mencakup penentuan rambu-rambu, penangan masalah dan sometimes ucapan "maaf aku salah"

Kita semua harus berusaha untuk menjadi komunikator yang baik dan berkomunikasi dengan kasih. Komunikasi kasih diwarnai sifat sabar, baik, rendah hati, jujur dan percaya. Apa yang bersifat pribadi antara kita dan pasangan sebaiknya tetap diperlukan sebagai sesuatu yang pribadi. Jangan sampai orang lain tau urusan dapur rumah tangga kita. Nggak lucu kan kalau kita ngejelekin pasangan kita di depan orang lain, lah kan kita sendiri yang milih dia sebagai pasangan kita, semestinya kita menjaga harga dirinya juga dong. Right?kadang aku suka heran kalo ada orang yang maki-maki pasangannya lalu ngomongin jelekenya di depan orang lain, bener sih pasangan kita itu bukan manusia yang sempurna, banyak salahnya, so do us. Jadi kenapa nggak yang jelek disimpen, yang bagus aja yang dikeluarin. Sebab nggak semua orang demen ama kita loh, bisa aja ntar ucapan kita soal pasangan dijadiin senjata ama dia buat ngehancurin rumah tangga kita.  Jadi kalo may curhat soal pasangan kita ke orang, ya pilih-pilih lah. Jangan seRT kita curhatin semuanya, curhat sama temen deket yang nggak bakal jatuhin kita atau sama konselor pernikahan imho lebih baik. Hidup emang kadang lebay kayak sinetron, jadi percaya aja ama aku. *Laaah*

Kita udah tau sama tau kalau wanjta biasanya cenderung lebih emosional dan cenderung menjadi komunikator yang terbuka *ngaca* sedang pria lebih suka memikirkan masalah diam-diam *sodorin kaca ke cami*. Hayoo siapa yang suka dramaa? Karena perbedaan ini lah sering kali yang cewek udah drama lebay yang cowok masih cool mainan coc. Oleh karena itu, kita mestinya belajar cara menyeimbangkan komunikasi faktual (mengomunikasikan fakta dan informasi) dan komunikasi emosional (Mengkomunikasikan perasaan). Ngobrol deh ama pasangan, kamu sukanya kalo ada masalah gimana, pasangan sukanya gimana, lalu ambil jalan tengah. 

Nah selain itu, bukan hanya kata-kata yang penting melainkan juga isi, nada bicara dan gerak isyarat yang kita kirimkan. Menurut sejumlah pakar komunikasi, komunikasi terdiri atas 38 persen nada, 55 persen bahasa tubuh dan 7 persen kata-kata. Jadi kalau bilang i love you ya pake meluk pasangan, jangan bilang i love you sambil berkacak pinggang. 

Terakhir, belajarlah mendengarkan. Faktanya banyak diantara kita banyak yang nggak pernah betul-betul belajar mendengarkan dengan baik. Selama percakapan kita lebih berkonsentrasi pada apa yang kita rencanakan akan kita katakan, bukan mendengarkan apa yang diucapkan lawan bicara. Kita belajar menjadi pendengar yang selektif, menyaring informasi, mengabaikan detail,dan menanggapi hal yang mencuri perhatian kita. (Ngaku!) Apalagi dijaman serba gadget, kadang kita bicara sambil mainan gadget. Makanya sekarang aku pribadi lebih berusaha mengabaikan handphone ketika ngobrol dengan orang. (Yang masih sering failed)

5.Bagaimana bertengkar dengan benar?

Siapa yang nggak pernah bertengkar? Hubungan yang baik pasti pernah ada konflik, soalnya kalo datar kayak jalan tol pasti ada salah satu pihak yang mengalah, dan itu nggak sehat. Kalo ngalah terus, mendem kejengkelan terus, nanti pas kesabarannya habis bisa DHUAAARR meledak dengan sukses. Semakin kita dekat dengan seseorang semakin besar kemungkinan kita untuk terluka.

Faktanya, banyak hal yang bisa menimbulkan konflik, misalnya harapan yang nggak terwujud,kebutuhan yang nggak terpenuhi entah itu kebutuhan jasmani, rohani, emosional, intelektual maupun keuangan. Untuk menjadikan situasi penyelesaian konflik memuaskan kedua pihak, upayakan untuk memahami hati orang yang kita cintai, dan buatlah kebutuhannya serta perasaannya menjadi prioritas melebihi pertikaian apapun. 

Terus gimana dong kalau berantem? ya di selesaikan dong. Tujuan penyelesaian konflik adalah bertukar informasi, saling memahami dan menemukan solusi bagi kedua belah pihak tanpa melukai perasaan siapapun. Jadikan hubungan kita dan pasangan sebagai prioritas utama. Cobalah kendalikan emosi kita soalnya satu-satunya hal yang bisa kita kendalikan adalah diri kita, jangan membuat keputusan apapun saat masih emosi. Ingat ya, pasangan kita mengasihi kita, mereka tidak akan pernah dengan sengaja melukai hati kita. Mikir yang positif, tarik nafas panjang dulu, mikir dulu baru bicara. Tentukan masalah yang sebenernya, fokus, jangan melenceng dari masalah yang ada dan mengungkit yang sudah berlalu. Bicarakan baik-baik dengan pasangan, dengarkan dengan hati, dengan penuh kasih. Percayalah, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. 

6. Bagaimana cara mengelola keuangan?

Uang adalah salah satu hal sensitif yang sering menyebabkan masalah dalam rumah tangga. Penyebabnya banyak, bisa karena yang satu hemat yang satu boros, bisa karena tidak sesuai ekspetasi, bisa karena gaya hidup dan seterusnya. Jadi masalah ini memang perlu banget dibicarakan sebelum menikah, bukan berarti matre ya... tapi lebih ke realistis, sebab popok nggak bisa dibeli pake cinta kan?

Imho dari awal sebaiknya saling jujur sama pasangan, terutama kalo udah memutuskan buat menikah. Bukan apa-apa sih, selain karena pasangan itu harus terbuka dan jujur juga supaya pasangan nggak syok nantinya. Jangan sampai setelah menikah baru tau kalo mobil yang dipake antar jemput kita itu mobil rentalan dan hutang pasangan kita udah sekian milyar *hamit-hamit*. Sekali lagi bukan matre ya.. tapi apa? Yak, popok nggak bisa dibeli pake cinta sodara-sodara!! Pun habis nikah masalah makin banyak guys, jangan sampai ditambahi masalah keuangan. 

Aku sendiri udah jujur sih ama cami kalo dalam sebulan kudu beli skincare sekian rupiah, jujur kalo hobi beli lipstik yang kadang warnanya hampir mirip satu sama lain, jujur kalo suka beli sepatu. Jadi cami udah nggak syok kalo kelak istrinya suka belanja hal nggak penting (penting sih menurutku) dan sekarang dia kadang malah jadi reminder, nggak nglarang sih tapi kadang suka nanya skala prioritas penting nggak beli barang itu?kan masih ada yang itu dan itu. Minimal aku jadi mikir dua kali walaupun endingnya tetep beli. Hahahaha cami juga jujur, masih ada tanggungan apa, masih mesti nguliahin siapa. Jadi dari situ aku juga jadi berusaha ngerti dan nggak nuntut minta dibeliin hermes. Kalo gitu kan jatohnya sama-sama enak. 

Nah selanjutnya soal gaji dan rekening post menikah. Mau gimana nih?apa mau di merger, apa mau dikelola sendiri-sendiri, apa mau uang suami adalah uang istri dan uang istri adalah uang istri (langsung diiyain para istri sedunia sejagad raya ), sebelum menikah aku emang nggak tau sih gaji cami berapa, tapi sekarang mulai buka bukaan jumlah gaji, mulai membahas prioritas mau buat apa, nabung berapa, invest berapa, siapa yang ngatur dan seterusnya. Jatohnya enak juga, less curiga kelak. 

Sisi positifnya sebagai calon istri seorang akuntan, aku sedikit banyak belajar soal pengelolaan keuangan. Ya kan nggak lucu ntar kalo keluarga akuntan nggak bisa ngelola uang. Meski jujur sampai saat ini aku belom mudeng soal reksadana dan teman-temannya, aku invest emas aja deh sama deposito yang gampang mikirnya. Hahahaha

Buat memudahkan, kamu bisa mulai coba buat anggaran rumah tangga dengan presentase dari total pendapatan sebagai berikut :
Sosial/persembahan 10%
Nabung 20%
Investasi 30%
Kebutuhan sehari -hari 40%

Atau kalau mau lebih detail bisa, 
Rumah (sewa/kpr, listrik, air, gas) 25-30%
Makanan 10%
Kendaraan 15%
Persepuluhan 10%
Tabungan 5-10%
Utang 5 %
Asuransi 5%
Kesehatan 5%
Pakaian 5%
Rekreasi 5%
Lain-lain 5%

Kalo udah buat anggaran, disiplinlah demi anak cucu kelak. Jangan lupa untuk punya dana darurat minimal sebanyak 3x kebutuhan hidup sebulan dan yang terpenting, jangan pernah jadi miskin karena ingin terlihat kaya, jangan jadi besar pasak daripada tiang. 

So, selamat berdikusi dengan pasangan. Wish you (and me too) happily ever after!

0 komentar:

Post a Comment

Feel free to ask anything, leave your comment. No SARA please :)