Frugal Living : Hidup Hemat Berkualitas

Seberapa boros kamu?

Hai- hai kali ini aku mau cerita soal Frugal Living, lifestyle yang sudah beberapa bulan aku ikutin. Awalnya aku kenal frugal living ini ketika aku lagi searching cara nabung yang efektif. Bukannya aku nggak bisa nabung sih, tapi aku ada cita-cita mulia yang butuh dana dan ada perubahan keputusan hidup yang sangat besar yang bikin aku harus mengevaluasi kembali money managementku. 

Frugal living kadang disalah artikan sebagai hidup yang serba hemat, super ngirit yang akhirnya berujung pelit. Padahal menurutku frugal living adalah suatu gaya hidup hemat yang cerdas, dengan berusaha mendapatkan penawaran harga terbaik suatu barang dan memanfaatkannya semaksimal mungkin. Makanya aku bilang, frugal living ini adalah gaya hidup yang hemat berkualitas. Udah kayak slogan salah satu supermarket di Indonesia kan?

Contohnya gini, saat kita hanya punya uang pas-pasan buat makan terus kita cuma makan mie instan dan nasi garem demi berhemat, itu bukan frugal living. Karena pilihan itu nggak sehat, dan nantinya malah akan berujung kita sakit lalu berobat. Akhirnya biaya berobatnya malah lebih besar dari biaya makan, ini bukan frugal living. Ini ceritanya mau ngirit malah jadi ngorot. Kalau frugal living, ketika nggak punya uang lebih buat makan ya masak sendiri alih-alih jajan, beli sayurnya di pasar tradisional bukan di supermarket, protein hewaninya diganti protein nabati, terus cari voucher atau diskonan. Jadi sebenernya frugal living itu nggak sengsara kok, masih bisa hidup enak dan bahagia juga!

Jadi, apa aja yang udah aku terapkan saat menjalani Frugal Living ini?
  1. Budgeting.
Aku adalah tipe orang yang senang merencanakan segala sesuatu, bikin checklist dan puas ketika nyontreng checklist. Jadi aku sih happy-happy aja kalau suruh bikin budget dan berusaha mentaatinya, berasa lagi melakukan challenge gitu. Biasanya budgeting aku lakukan awal bulan saat ada pemasukan, langkahnya adalah menabung, membayar kewajiban ( seperti iuran, persepuluhan, bayar kost, rewang, dll)  baru terakhir sisanya dibagi lagi untuk makan, transportasi, nongkrong, dll. Kebetulan aku punya 2 rekening, jadi satu untuk uang lewat, satu untuk nabung. Dengan cara itu tabungan nggak bakal mudah di korek-korek kalo lagi butuh. Aku pakai aplikasi money manager untuk membantu mengingat budget dan jumlah uang, kalau telaten nginput tiap hari bermanfaat banget lho. Nggak ada cerita bingung, lho uangku kemana aja kok udah habis? Dan bikin bahagia kalau liat angka tabungan.
Penampakan Money Manager
Bisa dilihat dari gambar diatas kalau hal sepele seperti pembayaran STNK aja sudah aku budgeting dari awal, jadi semisal habisnya banyak pun nggak akan menganggu cash flow. Begitu juga liburan, skincare, imunisasi anak, pendidikan anak, dana darurat, semua udah di budgeting dan wajib dibayarin tiap bulan. Lebih baik nyicil di awal daripada nyicil belakangan alias kredit dan kena bunga kan?

2. Cari Best deal.
Frugal Living adalah seni mencari harga terbaik dari suatu barang dengan kualitas baik. Jadi hemat itu nggak selalu soal nyari barang murahan atau nyari barang pengganti yang harganya lebih murah. Misal ya Keira itu susunya merk X, biasanya aku akan buka hemat.id buat bandingin harga antar toko supaya tahu toko mana yang ngasih harga paling murah. Selain itu biasanya aku belanja di hari Jumat-Minggu, karena di hari itu banyak supermarket yang ngasih promo akhir pekan. Aku juga jadi member di beberapa toko (terutama yang membernya gratisan) supaya bisa dapat poin yang bisa ditukar voucher belanja atau biar dapat tambahan diskon. Pokoknya gimana deh caranya supaya aku dapat merk itu dengan harga yang paling murah, bukan mengganti merk itu dengan merk lain yang kualitasnya lebih buruk.

3. Buy in Bulk.
Tau nggak sih kalau biasanya harga produk itu semakin besar kemasannya semakin murah? Nah biasanya kalau sudah cocok aku akan beli lotion, shampo, sabun, susu, skincare dan segala jenis produk itu sekalian yang kemasannya besar. Meskipun kelihatannya lebih mahal tapi kalau dihitung, harga per ml nya lebih murah lho. Dan biasanya aku kalau belanja itu memang selalu siap buka kalkulator untuk ngitung harga per pcs/ per milinya berapa lalu dibandingan karena kadang produk kecil ada promo, yang gede enggak. Nah kalo kondisinya jatuhnya murah yang kecil (biasa karena promo) ya nyetok aja sekalian, pilih yang expired datenya masih lama.

Kayaknya ribet ya? Tapi sebenernya bisa hemat banyak lho. Contohnya SK II aja deh ya, harga SK II FTE 230ml itu sekitar Rp 1.480.000 (6.434/ml) sedang yang 75ml harganya Rp 606.000 (8.080/ml). Lihatlah selisihnya 2.000/ml, kalau kamu beli 100ml aja, selisihnya udah 200ribu kan? Mungkin kelihatannya kalau beli yang kemasan besar itu mahal banget jadi terasa berat, makanya aku mensiasatinya dengan budgeting. Jadi kalau mau beli direncana banget, ini barang sekian ml habisnya berapa bulan ya? Habis itu harganya dibagi sekian bulan itu dan nanti tiap bulan kita tabung deh uangnya. Jadi pas jatahnya beli kita udah ada anggarannya.

4. Quality over Quantity.
Banyak sekali momen dimana pengen ngirit malah jadi ngorot. Pengen hemat malah jatuhnya boros, pernah gitu nggak? Itu karena kita kurang memperhatikan kualitas barang yang kita beli. Suamiku dulu pernah pengen beli headset bluetooth, biar katanya bisa dengerin musik sambil olahraga. Maka belilah dia headset merk advan seharga ratusan ribu, eh di pakai bentar rusak. Then belilah dia headset lagi dengan merk x (lupa merknya apa), saat itu dia bandingin harga di Bhineka dengan di Shopee dan akhirnya dia pilih beli di Shopee karena murah banget, nyaris separuh harga (yang ternyata tetep jutaan juga). Eh ternyata headsetnya KW premium, dipakai juga rusak. Muahahhahaa Endingnya dia beli lagi headset Sony, kali ini beli di toko terpercaya yang jelas original dengan harga yang bisa beli SK II gede dua biji. Tapi si Sony awet sampai sekarang. Bisa bayangin nggak kalau seandainya suamiku itu langsung aja beli Sony original dari awal? Nggak perlu lah dia buang uang beli headset abal-abal yang sekarang aja cuma nganggur di pojokan nggak bisa di pakai.

Jadi menurutku alih-alih punya tas KW premium 10 biji, lebih baik punya satu yang asli dan kualitasnya baik. Alih-alih punya baju 3 lemari tapi kualitas bahannya dicuci langsung melar, lebih baik punya 1 lemari tapi bisa dipakai bertahun-tahun. Ingat, barang berkualitas nggak selalu mahal. Tas- tas kulit lokal itu banyak banget yang kualitasnya bagus dan harganya masih ratusan ribu.

5. Manfaatkan Barang dengan Maksimal.
Siapa yang suka bosenan? Aku! Skincare baru abis separuh udah pengen nyoba yang lain, Handphone masih bisa dipakai udah ngiler pengen ganti yang baru, Sepatu masih bagus pengen koleksi yang lain, ujung-ujungnya numpuk. Ini lah, kalo kata Financial Adviser fenomena middle trap-fenomena kelas menengah yang nggak habis-habis. Udahlah duit pas-pasan, borosnya nggak ketulungan. Kapan mau jadi wealthy? *Menatap cermin*
Jadi semenjak belajar frugal living ini aku bener-bener berusaha menerapkan prinsip
" Kalau habis baru beli, Kalau rusak baru ganti."
Maka meski suami sudah berjanji membelikan handphone baru yang kece itu, tapi selama ini belum rusak ya belum akan beli. Meski rasanya udah pengen banget beli retinol dan serum vit.C nya klairs ya nggak beli dulu karena stok serum masih banyak. Begitu juga dengan bedak, gincu (sumpah PR banget ini kalo suruh ngabisin lipstik huhuhu), dan segala jenis make up. Kalo belum habis nggak bakalan beli, yeah!

6. Membeli Barang yang Di Butuhkan.
Membeli barang yang dibutuhkan, bukan diinginkan itu agak-agak susah. Sebagai wanita aku cenderung beli barang yang diinginkan tapi aslinya nggak butuh-butuh amat. Ya kayak kalo lihat diskonan baju anak lucu-lucu tapi sayang kalo dibeli ntar bentar lagi nggak muat, lihat pajangan meja lucuuuu imut nggemesin tapi aslinya nggak butuh juga, liat lipstik warnanya bagus banget tapi lipstik dirumah aja ada puluhan dengan shade warna yang mirip, dan masih banyak lagi 'dosa' lain yang aku lakukan.

Tapi sekarang aku berusaha bertobat dan lebih bijak saat belanja, huahahaha. Kalau mau beli barang, yakinkan dulu diri apakah butuh atau cuma kepengen. Kalau cuma kepengen jangan di beli, percuma ntar juga nggak dipakai.

7. Do It Yourself
Melakukan segalanya sendiri atau membuat beberapa barang sendiri itu lebih asyik dan lebih hemat. Misalnya bawa bekal sendiri atau masak sendiri dibanding jajan, belajar bikin kopi yang enak sendiri daripada ke kedai kopi, bikin recycle barang sendiri, nyuci sendiri dibanding laundry, dan banyak banget DIY-DIY lain di luar sana yang bisa kita tiru. Syukur malah bisa dijual untuk menghasilkan pemasukan lagi.

8. Gratisan itu Penting!
Nah semenjak jadi frugal, aku ini demen gratisan. Sebodo lah sama kata orang, ya kalo bisa gratis ngapain bayar ya kan?

Cara mendapatkan gratisan itu banyak, misal numpang wifi kantor supaya kuota kita tetap hemat, ikut kuis dan lomba-lomba, memanfaatkan website semacam hometester buat dapat freebies gratis, ngisi kuesioner di nusaresearch buat dapat pulsa gratis dan banyak lagi! Yang penting jangan sampai sifat gratisan ini mengganggu khalayak ramai, semisal nih hobi numpang makan di rumah temen, hobi mandi dirumah temen, tetring wifi hape temen, nah kalo itu mah jangan ya!

Kayaknya itu aja sih beberapa hal yang aku lakukan dalam rangka belajar Frugal living. Dan tentunya meski hidup hemat aku tetep aja sih hidup dengan wajar, nggak yang nelongso banget gitu. Malah kadang ada juga yang menganggap aku ini boros dan nggak dewasa karena suka belanja dan nongkrong sama anak muda, hahahaha aneh kan? Ya karena kuncinya ada di budgeting, kalo ada budget buat nongkrong ya kenapa nggak dipakai? Toh juga nggak tiap hari kan?

Btw, setelah menjalani hidup dengan cara ini aku jadi kenal dua gaya hidup lain : Minimalism living dan Zero waste. Apakah itu? Next time kalau udah belajar aku posting deh ya! Sekarang mari kita belajar hemat dulu!

Xoxo


0 komentar:

Post a Comment

Feel free to ask anything, leave your comment. No SARA please :)